Selamat Datang Di Blog e-edu
Masuk Klik Di sini
Masuk Klik Di sini

Sabtu, 24 Maret 2012

Beranda Siapkan Anak Bangsa Kita Dari Usia Dini-4






Mendongkrak Minat Baca Si Kecil

Siapa bilang mengajar si kecil membaca adalah perkara sukar ?

Lesley Mandell Morrow, profesor dan pakar pendidikan belajar membaca pada usia dini di Rutgers University, mengatakan orangtua hendaknya membiarkan anak belajar membaca dengan cara alamiah. Senang Membaca

Dari kegiatan sehari-hari, anak dapat belajar membaca. Kegiatan memasak, berjalan-jalan, makan bersama, berbelanja bisa menjadi kesempatan berharga untuk memacu anak belajar membaca secara bebas. “Anak yang harus membaca buku akan merasa terpaksa untuk belajar,” katanya.

Menurut Morrow, kemampuan membaca harus dipelajari dan dipraktikkan dengan sukarela tak ubahnya kemampuan berbicara dan memahami. Tinggal bagaimana orangtua menjadikan kegiatan belajar membaca sebagai bagian dari ritual sehari-hari. Kegiatan yang dilakukan bersama antara anak dan orang tua ini juga akan mendorong orang tua untuk kembali gemar membaca. Lewat programnya yang diberi nama GAINS (Gaining Achievement in the New Standard), Morrow dan rekannya Michael W. Smith dan Diane H. Tracey, menawarkan konsep belajar membaca yang lebih bebas. Berikut saran mereka:

Memasak bersama
Saat memasak, mintalah anak untuk membaca resep. Selain itu, ajak anak untuk ikut menyiapkan makanan dengan cara membaca label yang tertera. Membaca daftar belanja juga menjadi bagian dari kegiatan belajar membaca yang menyenangkan.

Berjalan-jalan bersama
Saat menikmati acara rekreasi bersama si kecil, Anda bisa mengajarnya membaca lewat nama-nama binatang, tanaman, dan benda yang ditemui di jalan. Catat nama benda-benda itu dan minta si kecil membacanya. Begitu pula saat malam tiba, Anda bisa mengajak si kecil menyaksikan benda-benda langit, menulis namanya dan meminta anak membacanya kembali sambil menunjuk benda-benda yang dibacanya.

Saat makan bersama
Acara makan bersama bisa pula menjadi ajang belajar membaca bagi si kecil. Mintalah si kecil untuk mengambilkan botol atau kemasan bertulisan. Dengan ‘tantangan’ itu anak akan mencoba membaca tulisan yang ada pada botol atau kemasan. Riset menunjukkan, semakin banyak waktu yang dilewatkan bersama keluarga di meja makan, semakin besar kemungkinan bagi si kecil untuk menguasai berbagai kosa kata. “Keluarga yang terbiasa berdiskusi di meja makan biasanya akan memberikan kesempatan berbicara pada anak-anaknya dan itu bermanfaat untuk melatih perbendaharaan kosa kata si kecil dan dengan sendirinya membantu mereka saat belajar membaca,” kata Morrow.

Belanja bersama
Sebelum pergi berbe-lanja bersama si kecil, buatlah daftar barang belanjaan terlebih dulu. Lantas, dengan gaya pemburu, minta anak Anda mencari barang yang dimaksud dengan membawa daftar belanjaan. Si kecil akan membiasakan untuk mencocokkan daftar belanjaan dengan barang yang ia temu-kan di rak. Membaca tanda-tanda yang ada di toko juga akan menjadi kegiatan yang mengasyikkan bagi si kecil. Membaca koran. Koran memberi peluang besar pada anak untuk belajar membaca. Rubrik yang memikat seperti komik dan perjalanan yang penuh warna akan menarik mata si kecil. Diskusikan dengan si kecil apa saja yang Anda baca bersamanya. Kalau mungkin, kliping bagian yang ia sukai.

Bercerita bergantian
Membiasakan bercerita pada si kecil dengan cara membaca akan mendorong anak untuk membaca juga. Mintalah ia membacakan cerita untuk Anda. Setelah itu ajak ia berdiskusi mengenai cerita yang baru saja Anda baca bersamanya.

Menonton aktif
Jangan jadi penonton pasif bila ada di depan tele-visi. Saat menonton TV bersama anak Anda, mintalah ia belajar membaca teks, tulisan atau apa pun yang muncul di layar. Diskusikan bersama anak.

Orangtua suportif
Jika tak tahu, tak ingat, atau tak memahami apa yang ditanyakan si kecil pada Anda, jangan ragu untuk mengakuinya, namun berjanjilah untuk mencari jawabannya. Bukalah buku, ensiklopedia, kamus, atau Internet bersama si kecil untuk mencari jawaban. Bacalah bersama.
Sumber : Dikdasmen




Dampak Televisi bagi Perkembangan ANak

Dampak Televisi bagi Perkembangan 3 tahun pertama usia seorang Anak ternyata harus menjadi perhatian utama orang tua. Jangan biarkan Anak seorang diri tanpa pengawasan berjam-jam duduk manis di depan TV.

Menurut penelitian Akademi Pediatri di negara Paman Sam, bahwa jangan ada media TV untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, dan untuk anak di atas usia 2 tahun hanya diberi 1 jam saja untuk menonton TV, tentunya dengan pengawasan orang tua/pendamping.

Penelitian terakhir dari Universitas Massachusetts menyatakan bahwa waktu yang banyak dihabiskan menonton televisi untuk 3 tahun pertama usia anak ternyata akan mengurangi waktu bermainnya dan mengurangi interaksi antara anak dengan orangtuanya.



Rahasia Membentuk Anak Cerdas

Sebuah berita ringan mancanegara di salah satu televisi swasta nasional beberapa waktu lalu sungguh sangat mengagumkan.

Berita tersebut mengisahkan seorang anak kecil berusia 7 tahun, Alex Mortgail, asal Bremen, Jerman, memiliki IQ yang sangat cemerlang. Dalam usia 2,8 tahun, dia sudah lancar membaca dan menulis. Setiap harinya tak terlewatkan membaca berbagai karya sastra untuk anak, juga “melahap” habis sejumlah jurnal ilmiah, berbagai berita koran maupun berita melalui teknologi informasi. Pendek kata ia tidak pernah melewatkan berbagai informasi yang ia peroleh dari berbagai sumber.

Orang tua Mortgail sempat merasa khawatir dengan kecerdasan otak anaknya itu. Kecerdasannya telah menyebabkan perilakunya “menyimpang” karena menjadi sangat berbeda dengan anak-anak lain sebayanya. Mortgail hampir setiap harinya hanya mengisi waktunya dengan membaca, menulis, dan “bergaul” dengan teknologi informasi.

Ketika memasuki usia 5 tahun, Mortgail sudah bisa menguasai tiga bahasa dunia, Inggris, Spanyol, Prancis, dan tentu saja bahasa Jerman. Di sekolahnya, berbagai bentuk soal hitungan matematika, fisika, dan kimia dapat dijawabnya dalam waktu singkat.

Melihat kecerdasan yang luar biasa pada diri Mortgail, kepala sekolahnya merekomendasikan murid istimewa itu untuk langsung belajar di perguruan tinggi tanpa mengikuti sekolah tingkat menengah. Setelah di universitas, dengan melihat keistimewaan Mortgail, rektor universitas tempat Mortgail kuliah segera mendaftarkan anak itu ke lembaga pemerintah yang secara khusus menangani anak berbakat. Berkat keistimewaan yang dimilikinya, Mortgail dinyatakan sebagai “anak negara”. Beberapa tahun kemudian, ketika ia berusia 10 tahun, si anak ajaib itu, muncul di jaringan televisi Jerman untuk melakukan debat ilmiah dengan sejumlah profesor. Itulah kisah Mortgail si bocah ajaib, luar biasa.

Rahasia Membentuk Anak sehat, cerdas dan berkepribadian baik merupakan dambaan setiap orangtua. Salah satu langkah awal penting untuk mewujudkannya adalah pemberian makanan pertama dengan kualitas dan kuantitas optimal. Soalnya gangguan gizi pada masa bayi dapat menghambat pertumbuhan otak, yang tentu berpengaruh pada perkembangan kecerdasan bayi.

Fakta-fakta ilmiah membuktikan, bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas bila diberi air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 4 – 6 bulan pertama kehidupannya. ASI eksklusif, lebih tepat disebut pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya memberi ASI pada bayi.

Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan. Pertama, faktor genetik atau bawaan dari orangtua. Lainnya, faktor lingkungan. Faktor ini akan menunjang apakah faktor genetik bisa berkembang optimal. Perlu diingat, faktor genetik tidak dapat direkayasa, sementara faktor lingkungan punya banyak sisi yang dapat dimanipulasi.

Secara garis besar ada tiga jenis faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan.

1. Pertumbuhan fisik biomedis otak. Untuk ini, nutrisi berperan sangat penting. Makanan dengan kualitas kadar gizi dan kuantitas yang optimal akan mendukung pertumbuhan otak yang optimal pula.

2. Pertumbuhan emosi dan sosial yang mengutamakan pemberian kasih sayang pada anak. Anak yang merasa disayangi akan mudah menyayangi lingkungan. Dan, dia pun mudah bersosialisasi serta menjalin hubungan yang memuaskan.

3. Stimulasi atau rangsangan sejak dini, bahkan sejak janin dalam kandungan. Para ahli membuktikan, dengan pemberian stimulasi terus-menerus sampai dua tahun, IQ anak pada usia 4 – 5 tahun dapat ditingkatkan 15 – 30 poin.

Pertumbuhan otak

Bila mendengar kata cerdas selalu diasosiasikan dengan otak. Otak, salah satu organ paling penting dalam tubuh manusia yang tumbuh sangat cepat selama kehamilan. Otak bayi terbentuk segera setelah pembuahan. Otak bayi lahir telah mencapai pertumbuhan 25 persen dari otak dewasa dan mengandung 100 miliar sel otak (neuron). Di usia setahun, pertumbuhannya mencapai 70 perse dari otak dewasa. Di usia tiga tahun, otak anak telah sebesar 90 persen otak dewasa. Maka periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kecerdasan anak.

Pertumbuhan otak terbagi atas dua stadium. Stadium pertama adalah stadium pembentukan neuron, sedangkan stadium kedua adalah stadium pembesaran dan pematangan neuron. Pembentukan ini hanya berlangsung sampai usia kehamilan lima bulan, setelah itu neuron tak terbentuk lagi. Bila gizi ibu hamil baik, di akhir stadium pertama akan terbentuk neuron muda yang sangat banyak.

Gizi bayi yang baik dapat mempercepat pembentukan myelinisasi, apalagi bila disertai rangsangan. Makin banyak rangsangan yang didapat, akan makin banyak pula cabang neuron yang terbentuk. Maka, komunikasi antar sel-sel otak juga akan baik. Rangsangan pada panca indra janin sangat baik untuk menjaga agar otak tetap dapat tumbuh.

(Dikutip dari berbagai sumber*)



Wash, Brush, Comb ! Developing Preschool Hygiene Habits

Mengajarkan anak-anak Balita kita tentang Kebersihan Diri….?

Mencuci tangan, Menyikat Gigi, dan Menyisir Rambutnya sendiri?sisir rambut

Pamela Wingerden M.Sp.Ed. menuliskannya untuk para Orang Tua…..

“Wash your hands. Brush your teeth. Did you use soap?” These are just a few of the phrases preschool parents repeat like a broken record. It’s a fact: children and germs go hand in hand. Each day parents watch their children play in the sand at the park, stick fingers in their noses and mouths, pick up slimy creatures, and reach eagerly for food that’s fallen on the ground.

Getting preschoolers to take over the brushing, scrubbing and rinsing themselves is an important step in the development of a preschooler’s independence. Not only does it give parents a welcome break and help ditch the dirt in the short term, but teaching basic hygiene concepts to children at a young age will form the groundwork of a healthy lifestyle in the future.

Proper Hygiene

Just as you teach your child the steps to ride a bike or play a game, it’s important for you to teach your child proper hygiene habits. Personal hygiene can include such skills as how to properly wash hands, take a bath, brush teeth and hair, and follow proper toilet training skills. “The most common health issues that come up is from preschoolers playing with unsanitary things and then touching their mouths and other kids before washing hands,” says pediatrician Carol-Lynn Barsky. “At this age, it is primarily hand washing that will keep them healthy.”

Get in the Habit

Help train your child to get in the habit of washing his hands after certain activities such as using the bathroom, playing at the park, and being at a friend’s house. Keep a regular schedule for taking baths and help your child brush teeth and hair in the morning and before bedtime everyday. If your child gets in the habit of regular hand washing, brushing teeth, and bathing, it will become more natural and reminders from parents will be less necessary. One of the most effective ways to teach consistency in good hygiene is to set a good example as a parent by washing your hands, and brushing your teeth and hair in front of your child regularly.

What about Germs?

It’s important to gently explain the idea of germs to your child, without scaring him. You want your child to feel free to make mud pies and pick up insects, without the fear of germs. “I teach the children that not all germs are bad, but that some germs can make us sick,” says preschool teacher Shannon Johst. “I talk to them about how fast germs can spread, and that washing hands will keep them safe.” The key is to focus on what your child can do for his body to stay healthy rather than focusing solely on germs.

Oke menarik kan????cuci tangangosok gigi

ilmci

0 komentar to “Beranda Siapkan Anak Bangsa Kita Dari Usia Dini-4”

Posting Komentar

 

RAJIN PANGKAL PANDAI Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates