Selamat Datang Di Blog e-edu
Masuk Klik Di sini
Masuk Klik Di sini

Sabtu, 24 Maret 2012

Siapkan Anak Bangsa Kita Dari Usia Dini-2

PAUD adalah pendidikan anak usia dini untuk usia anak 0-6 tahun bagian dari pendidikan pra-sekolah dan termasuk pendidikan non formal.

Tetapi dalam PAUD sendiri dibagi menjadi PAUD formal yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Atfal (RA); dan PAUD non-formal yang terdiri dari Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), TPQ, Fullday School, dll.


Golden Age
Sebelum membahas manfaat bermain, kita lihat PAUD dari sisi yang lain. PAUD di Purworejo sampai hari ini masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat, padahal dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah masa ”golden age” periode perkembangan kognitif, bahasa dan sosial emosional mengalami titik puncaknya. Keterlambatan stimulasi pada usia ini mempunyai efek jangka panjang dalam kehidupan seorang manusia.


Pentingnya PAUD juga dikemukakan oleh Feldman (2002) bahwa masa balita merupakan masa emas yang tidak akan berulang karena merupakan masa paling penting dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi. Kenyataan ini memperkuat keyakinan bahwa pendidikan dasar bagi anak seyogianya dimulai sedini mungkin.

Penelitian tentang otak menunjukkan sampai usia 4 tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 50%, pada usia 8 tahun mencapai 80%, dan sisanya sekitar 20% diperoleh pada saat berusia 8 tahun ke atas. Artinya apabila pendidikan baru dilakukan pada usia 7 tahun atau sekolah dasar, stimulasi lingkungan terhadap fungsi otak yang telah berkembang 80 % tersebut terlambat dalam pengembangannya. Otak yang kurang difungsikan tidak hanya membuat anak kurang cerdas tetapi dapat mengurangi optimalisasi potensi otak yang seharusnya dimiliki oleh anak.


Fungsi Bermain
Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bermain dengan teman sebaya mempunyai fungsi yang dapat memperluas interaksi sosial dan mengembangkan ketrampilan sosial bagi anak kita, yaitu memberi pelajaran pada anak-anak bagaimana kita berbagi, hidup bersama, mengambil peran dalam kehidupan, dan belajar hidup dalam masyarakat secara umum. Selain itu, bermain akan meningkatkan perkembangan fisik, koordinasi tubuh, dan mengembangkan serta memperhalus ketrampilan motor kasar dan halus.

Bermain juga akan membantu anak-anak memahami tubuhnya, fungsi dan bagaimana menggunakannya dalam belajar. Anak-anak bisa mengetahui bahwa bermain itu menyegarkan, menyenangkan dan memberikan kepuasan.


Bermain dapat membantu perkembangan kepribadian dan emosi karena anak-anak mencoba melakukan berbagai peran, mengungkapkan perasaan, menyatakan diri dalam suasana yang tidak mengancam, juga memperhatikan peran orang lain. Melalui bermain, anak-anak kita bisa belajar mematuhi aturan sekaligus menghargai hak orang lain.

Bermain dengan bimbingan guru di lembaga PAUD jelas lebih berkualitas karena disanalah nilai-nilai positif bisa disisipkan yang tidak didapat ketika anak bermain dirumah atau di lingkungan masyarakat. Selanjutnya Froebel dalam Brewer (2007:41) mengatakan bahwa permainan dalam PAUD merupakan pondasi bagi pembelajaran anak sehingga dapat menjembatani anak antara kehidupan di rumah dan kehidupan anak di sekolah nantinya.


Bermain dan Kemampuan Intelektual
Bermain ternyata dapat membangun kemampuan intelektual anak. Bermain mampu merangsang perkembangan kognitif, karena dengan bermain, sensor-motor (indera-pergerakan) anak-anak dapat mengenal permukaan lembut, kasar, atau kaku. Permainan fisik akan mengajarkan anak akan batas kemampuannya sendiri.

Bermain juga akan meningkatkan kemampuan abstraksi (imajinasi dan fantasi) sehingga anak-anak semakin jelas mengenal konsep besar-kecil, atas-bawah, dan penuh-kosong. Melalui bermain, anak dapat menghargai aturan, keteraturan, dan logika. Bermain juga akan membangun struktur kognitif anak.

Anak-anak akan memperoleh informasi yang lebih banyak sehingga pengetahuan dan pemahamannya akan lebih kaya dan lebih dalam. Bila informasi baru tersebut ternyata berbeda dengan yang selama ini diketahuinya, anak dapat mengubah informasi yang lama sehingga ia mendapat pemahaman atau pengetahuan yang baru. Jadi akan memperkaya, memperdalam dan memperbaharui struktur kognitif anak sehingga semakin sempurna.


Bermain ternyata juga akan membangun kemampuan kognitif, kemampuan kognitif mencakup kemampuan mengidentifikasi, mengelompokkan, mengurutkan, mengamati, membedakan, meramalkan, menentukan hubungan sebab-akibat, membandingkan, dan menarik kesimpulan. Bermain akan mengasah kepekaan anak-anak akan keteraturan, urutan dan waktu. Bermain juga meningkatkan kemampuan logis (logika).


Disamping itu bermain juga akan menjadi media bagi anak untuk belajar memecahkan masalah. Pada saat bermain, anak-anak akan menemui berbagai masalah sehingga akan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengetahui bahwa ada beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah.

Dengan bermain juga memungkinan anak-anak bertahan lebih lama menghadapi kesulitan sebelum persoalan yang ia hadapi dapat dipecahkan. Proses pemecahan masalah ini mencakup adanya imajinasi aktif anak-anak. Imajinasi aktif akan mencegah timbulnya kebosanan yang merupakan pencetus dari kerewelan yang sering kita jumpai pada anak-anak.

Bermain juga akan mengembangkan konsentrasi, kita bisa melihat apabila tidak ada konsentrasi yang memadai, seorang anak tidak mungkin dapat bertahan lama bermain peran (berpura-pura menjadi dokter, guru, ayah/ibu, dll).

Ada hubungan yang dekat antara imajinasi dan kemampuan konsentrasi. Imajinasi membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi. Anak-anak yang tidak imajinatif memiliki rentang perhatian (konsentrasi) yang pendek dan memiliki kemungkinan besar untuk berperilaku agresif dan mengacau.



Bermain merupakan Laboratorium Bahasa


Jika kita perhatikan, bermain juga dapat menjadi wahana melatih kemampuan berbahasa anak. Dapat dikatakan bahwa kegiatan bermain merupakan ”laboratorium bahasa” bagi anak-anak. Di dalam bermain, anak-anak bercakap-cakap satu dengan yang lain, berargumentasi, menjelaskan, dan meyakinkan. Keterbatasan pendidikan bahasa di dalam keluarga dapat ditambal dengan interaksi bersama teman sebayanya di sekolah PAUD.

Jumlah kosakata yang dikuasai anak-anak dapat meningkat karena mereka dapat menemukan kata-kata baru dari teman bermain dan guru tentunya. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa PAUD ternyata mempunyai manfaat yang begitu besar, namun seolah terkuburkan karena kurangnya pemahaman dan penjelasan ke orang tua.

Harapannya, dengan tulisan ini dapat memberikan pemahaman tentang PAUD, dan memberikan motivasi bagi penyelenggara PAUD tentang peran mereka bagi pembanguan pendidikan yang tidak boleh dianggap remeh, karena dari sinilah pondasi peningkatkan mutu pendidikan itu dibangun.

Penulis : Margono, S.Pd. M.Acc



Pendidikan Anaka Usia Dini

Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari Universitas Chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun. Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.


Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk sebagian besar di rumah, sebelum mulai masuk sekolah. Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya dan sikapnya … 80% tergantung pada hasil pendidikan orang tua nya. Sadar atau tidak. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!

Artinya, akan jadi siapa anak kita, bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otaknya.

Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak. Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan (terinstall filenya ) di otak anak.

Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan. Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.


GURU PERTAMA ADALAH ORANG TUA

Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.

Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau dalam 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?

Salah satu ALAT yang bisa digunakan adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu sumber INPUT OTAK ANAK-ANAK kita. Kosa kata apa yang kita input, akan sangat mempengaruhi mereka. Oleh sebab itulah orang tua sangat-sangat penting memahami CARA BAGAIMANA agar bisa meng-input otak anak-anaknya sesuai dengan cara kerja otak mereka.

Beberapa hal terkait dengan ini, banyak di bahas pada ebook belajar membaca yang diterbitkan oleh belajar-membaca.com dan dunia-parenting.com dan juga telah disertai dengan bahan-bahan atau alat-alat belajar untuk anda pakai sebagai salah satu sarana efektif bagi orang tua yang peduli dengan masa depan anak-anaknya.

Di dalam ebook itu akan diberikan cara-cara yang efektif menjadikan kegiatan membaca, bukan hanya untuk BISA MEMBACA, melainkan justru UNTUK INPUT KEPRIBADIAN sekaligus MENGAKTIFKAN OTAK BELAJAR mereka, dengan cara yang tidak akan merusak kesenangan anak terhadap kegiatan tersebut. Bahkan mereka sangat haus, sangat nyaman, sangat alami. Amin



Memahami Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu upaya pembinaan yangditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Tujuan PAUD adalah membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secra optimal dlam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif.


LANDASAN YURIDIS

  1. Pembukaan UUD 1945
  2. Amandemen UUD 1945 pasal 28
  3. UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 9 ayat (1)
  4. UU No 20/2003 pasal 28


PAUD MERUPAKAN KOMITMEN DUNIA

Komitmen Jomtien Thailand (1990) ’Pendidikan untuk semua orang, sejak lahir sampai menjelang ajal.’Deklarasi Dakkar (2000) Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini secara komprehensif terutama yang sangat rawan dan terlantar.’Deklarasi ”A World Fit For Children” di New York (2002) ‘Penyediaan Pendidikan yang berkualitas’


PENTINGNYA PAUD

  1. PAUD sebagai titik sentral strategi pembangunan sumber daya manusia dan sangat fundamental.
  2. PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, sebab merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak.
  3. Anak yang mendapatkan pembinaan sejak dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental yang akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar, etos kerja, produktivitas, pada akhirnya anak akan mampu lebih mandiri dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
  4. Merupakan Masa Golden Age (Usia Keemasan). Dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada anak usia dini menempati posisi yang paling vital yakni mencapai 80% perkembangan otak.
  5. Cerminan diri untuk melihat keberhasilan anak dimasa mendatang. Anak yang mendapatkan layanan baik semenjak usia 0-6 tahun memiliki harapan lebih besar untuk meraih keberhasilan di masa mendatang. Sebaliknya anak yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai membutuhkan perjuangan yang cukup berat untuk mengembangkan hidup selanjutnya.


KONDISI YANG MEMPENGARUHI ANAK USIA DINI

Faktor Bawaan : faktor yang diturunkan dari kedua orang tuanya, baik bersifat fisik maupun psikis.

Faktor Lingkungan

  1. Lingkungan dalam kandungan
  2. Lngkungan di luar kandungan : lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah dll.


MEMAHAMI KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI

  1. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
  2. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak, sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak, agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
  3. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
  4. Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis.
  5. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuannya.

Penulis : Dra. Nani Susilawati (Staf Pengajar FISIP USU)



Mengapa PAUD (Pendidikan ANak Usia Dini)

KALAU kita singkap apa yang tersirat pada Undang-Undang Khusus yang mengatur tentang anak yaitu dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 53 ayat (1): Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga tidak mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.

Apa sebenarnya dampak dan implikasi undang-undang itu bahwa anak dari keluarga tidak mampu akan mendapatkan biaya pendidikan secara cuma-cuma dari pemerintah. Permasalahannya, bagaimana pemerintah menyosialisasikan dan membuat masyarakat mudah mengaksesnya. Undang-Undang tersebut sudah semestinya diimplementasikan, dan tentunya kita tidak akan menemukan lagi anak-anak yang tidak mampu, anak-anak terlantar dan anak-anak yang tinggal di daerah yang tidak mengecap pendidikan.

Salah satu upaya kongkrit yang mungkin dapat dilakukan adalah menggalakkan keberadaan apa yang dikenal dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pendidikan semacam ini dapat dilakukan dengan tidak mengenal tempat dan lokasi, apakah di perkotaan maupun di pedesaan. Program ini bisa saja dalam bentuk lembaga formal dan dimungkinkan pula dalam bentuk lembaga non formal.


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang digalakkan di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Pendidikan anak memang harus dimulai sejak dini, agar anak bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Anak-anak yang mengikuti PAUD menjadi lebih mandiri, disiplin, dan mudah diarahkan untuk menyerap ilmu pengetahuan secara optimal.

Ada kajian yang menyatakan bahwa anak-anak yang sebelumnya memperoleh PAUD akan sangat berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak tersentuh PAUD baik informal maupun nonformal. Ibarat jalan masuk menuju pendidikan dasar, PAUD memuluskan jalan itu sehingga anak menjadi lebih mandiri, lebih disiplin, dan lebih mudah mengembangkan kecerdasan majemuk anak.

Konsep bermain sambil belajar serta belajar sambil bermain pada PAUD merupakan pondasi yang mengarahkan anak pada pengembangan kemampuan yang lebih beragam. Kebijakan pemerintah kabupaten akan ikut menentukan nasib anak serta kualitas anak di masa depan.
Masa depan yang berkualitas tidak datang dengan tiba-tiba, oleh karena itu lewat PAUD kita pasang pondasi yang kuat agar di kemudian hari anak bisa berdiri kokoh dan menjadi sosok manusia yang berkualitas.



The Golden Age

Perspektif pembangunan manusia Indonesia seutuhnya menjadi landasan konseptual dari pembangunan pendidikan nasional yang ingin kita kembangkan. Dalam perspektif ini pembangunan pendidikan harus mampu membangun seluruh potensi kecerdasan manusia secara optimal dan bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan pembangunan nasional.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang menyatakan bahwa Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membangun seluruh potensi kecerdasan manusia sehingga berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi diri, masyarakat dan pembangunan nasional.

Dalam kerangka ini pendidikan anak usia dini menjadi sangat strategis, sebab jenjang ini masa yang paling baik untuk meletakkan dasar yang kokoh bagi perkembangan mental emosional, akhlak dan potensi otak anak. Para ahli sering menyebut masa kanak-kanak sebagai usia emas (golden age).

Para ahli psikologi berpendapat bahwa usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun.



Yang Perlu untuk Tumbuh Kembang Anak

Mengajarkan hidup bersih juga dapat digunakan sebagai satu media pembelajaran untuk penerapan disiplin.
Pola hidup sehat harus dimulai dari diri sendiri, sejak dini. Pembentukan pola hidup sehat akan lebih baik bila dimulai sejak kanak-kanak. Mengajarkan hidup bersih juga dapat digunakan sebagai satu media pembelajaran untuk penerapan disiplin. Cara mengajarkannya? Orang tua harus menjadi contoh. Anak perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang bisa diawali dengan teladan dari orang tua.

Menjaga Kebersihan Tubuh

Mandi
Frekuensi dan waktu untuk mandi sangat tergantung pada kondisi anak. Jika anak banyak melakukan aktivitas yang mengeluarkan keringat maka sebaiknya frekuensi mandi harus lebih sering. Keringat yang menempel di tubuh anak akan mengundang kuman-kuman untuk bersarang. Si kecil pun bisa terkena penyakit kulit. Idealnya, sekali dalam satu hari anak perlu keramas. Sehabis mandi bersihkanlah pusar.

Bentuk pusar yang menjorok ke dalam sulit untuk dibersihkan karenanya, pusar harus dibersihkan dengan menggunakan bahan yang lembut dan dengan hati-hati.
Sehabis mandi Bersihkan juga lubang hidung dengan tissue, dan telinga dengan cotton bud. Penggunaan tangan tidak dianjurkan. Tangan yang tidak bersih dapat menjadi sumber bakteri.

Menyikat Gigi
Setiap selesai makan dan sebelum tidur, mulut harus dibersihkan karena, sisa-sisa makanan yang tertinggal di gigi dan rongga mulut lama kelamaan dapat menjadi plak dan karang gigi.

Menggunting Kuku dan Mencuci Tangan
Kuku bisa menjadi sarang bertumbuhnya kuman dan bakteri penyebab penyakit. Selain itu, kuku juga dapat melukai anak. Jagalah agar kuku tetap pendek.

Cucilah tangan sesering mungkin. Tangan merupakan media penularan penyakit yang sangat potensial karena, tangan digunakan memegang barang-barang yang juga disentuh banyak orang. Cucilah tangan dengan menggunakan sabun di air yang mengalir.

Mengganti Pakaian dan Alas Kaki
Pastikan anak selalu mengenakan pakaian yang bersih. Mulai dari celana, kaos, dan pakaian dalam. Kaos kaki, sepatu maupun sandal harus bersih. Sepatu dan sendal harus rutin dibersihkan, dan hindari pemakaian kaos kaki berulang-ulang.

Untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan

Istirahat Cukup dan Olah Raga Teratur
Tidur sangat perlu bagi pertumbuhan anak. Porsi dan kualitas tidur membantu pertumbuhan anak karena, hormon pertumbuhan bekerja optimal saat anak tidur. Bayi memerlukan tidur setidaknya 17 jam perhari, balita 10-12 jam, sedang anak di atas 6 tahun memerlukan tidur 9-10 jam per hari. Selain tidur, anak juga memerlukan olah raga secara rutin. Olah raga yang dapat membantu meningkatkan kekebalan anak terhadap serang penyakit.


IQ Anak
Anak cerdas merupakan dambaan setiap orang tua. Namun, tidak semua anak terlahir cerdas. Menurut seorang pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, faktor genetik hanya memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Gizi dan perawatan yang baik semasa pertumbuhan, lingkungan yang kondisif, bahkan saat anak masih di kandungan dapat membantu tumbuh kembang anak.

Berbagai penelitian juga mengungkapkan korelasi positif antara gizi pada masa petumbuhan anak dengan perkembangan fungsi otak. Bila ingin memaksimalkan pertumbuhan sel otak anak, aturlah asupan gizi sejak dalam kandungan. Selain itu, ibu hamil wajib menghindari asap rokok. Asap rokok dapat mengurangi pasokan oksigen yang sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan sistem saraf janin. Kandungan racun dalam rokok sangat berbahaya bagi bayi.

Semasa janin, terjadi pertumbuhan dan pertambahan sel otak. Semakin besar volume otak, semakin tinggi tingkat kecerdasan. Ibu hamil perlu mengonsumsi makanan bergizi cukup. Setelah lahir, anak membutuhkan gizi yang cukup agar perkembangan otak optimal. Sebaiknya anak diberi ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.

Rangsangan untuk Meningkatkan Respon
Seorang psikolog Swiss, Jean Piaget menyatakan bahwa semakin banyak hal baru yang didengar anak, semakin besar keinginan anak untuk melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Berikan gambar-gambar lucu dan menarik dengan berbagai warna di kamar anak. dengan berbagai warna di kamar anak.

Kemampuan Verbal
Bahasa yang didengar anak dapat mempengaruhi kemampuan dasar berpikirnya. Bila sering diajak berbicara, kemampuan verbal anak semakin baik. Pelajaran berbahasa yang diterapkan sejak dini dapat menaikkan kemampuan inteligensia anak.

Berikanlah yang terbaik untuk putra-putri Anda. Pertumbuhan dan perkembangan, bahkan kecerdasannya sangat tergantung pada pola asah, asih dan asuh dari Anda! [HD-ilmci

0 komentar to “Siapkan Anak Bangsa Kita Dari Usia Dini-2”

Posting Komentar

 

RAJIN PANGKAL PANDAI Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates