Selamat Datang Di Blog e-edu
Masuk Klik Di sini
Masuk Klik Di sini
Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEOGRAFI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

Citra Nonfoto Hasil Penginderaan Jauh

Citra Nonfoto Hasil Penginderaan Jauh

3 Votes

Citra Nonfoto

adalah gambar atau citra tentang suatu obyek dipermukaan bumi yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning).

Prinsip memindai adalah merekam obyek di permukaan bumi dengan mekanisme parsial. Obyek dipermukaan bumi terbagi dalam sub area berupa garis yang membentuk area seluruhnya. Mekanisme perekaman baris perbaris pada sub area inilah yang di sebut perekaman secara parsial.

Prinsip Memindai

Prinsip Memindai

Citra Nonfoto dibedakan atas dasar :

1. Citra Nonfoto berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan

a. Citra Radar

Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro dan sumber tenaga buatan

b. Citra Inframerah Termal

Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah termal

c. Citra Gelombang Mikro

Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro

2. Citra Nonfoto berdasarkan sensor yang digunakan

a. Citra Tunggal

Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor tunggal

b. Citra Multispektral

Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor saluran jamak

3. Citra Nonfoto berdasarkan wahana yang digunakan

a. Citra Dirgantara

Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara

b. Citra Satelit

Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di antariksa/luar angkasa.

Citra Foto Hasil Penginderaan Jauh

CITRA FOTO HASIL PENGINDERAAN JAUH


Citra Foto

adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan/perekaman menggunakan kamera.

Cita foto dibedakan atas dasar spektrum elektromagnetik yang digunakan, posisi sumbu kamera, sudut lipatan kamera, jenis kamera, warna yang digunakan, dan sistem wahananya.

1. Citra foto berdasarkan warna yang digunakan

a. Citra Foto Warna Asli

Citra Foto Warna Asli

b. Citra Foto Warna SemuCitra Foto Warna Semu

2. Citra foto berdasarkan posisi sumbu kamera

a. Citra Foto Vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu tegak lurus terhadap permukaan bumi

Citra Foto Tegak

b. Citra Foto Condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, dengan sudut kemiringan kamera lebih dari 100. Adadua jenis foto condong yaitu :

- Citra foto agak condong, yaitu jika cakrawala tidak tergambar pada foto

Citra Foto Condong

- Citra foto sangat condong, yaitu jika cakrawala tergambar pada foto.

Citra Foto Sangat Condong

3. Citra foto berdasarkan sudut lipatan kamera

Jenis kamera

Sudut Liputan Jenis Foto
Sudut kecil

(narrow angle)

< 600 Sudut kecil
Sudut normal

(normal angle)

600 – 750 Sudut normal/sudut standar
Sudut lebar

(wide angle)

750 – 1000 Sudut lebar
Sudut sangat lebar

(super-wide angle)

> 1000 Sudut sangat lebar

4. Citra foto berdasarkan jenis kamera yang digunakan

a. Citra foto tunggal, citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal

b. Citra foto jamak, citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan obyek liputan yang sama. Foto jamak dapat dibuat dengan 3 cara :

  • Multikamera, menggunakan beberapa kamera yang diarahkan secara bersamaan ke satu obyek.
  • Multilensa, menggunakan satu kamera yang memiliki banyak lensa
  • Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna

5. Citra foto berdasarkan sistem wahananya

a. Citra Foto Udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahan yang bergerak di udara misalnya pesawat terbang, helikopter dll

b. Citra Foto Satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana satelit yang bergerak di luar angkasa.

6. Citra foto berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang digunakan

a. Citra Foto Ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum Ultraviolet

Spektrum UVb. Citra Foto Otokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau

c. Citra Foto Pankromatik, yaitu cira foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak

Spektrum Tampak

d. Citra Foto Inframerah Asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infamerah

Spektrum Inframerah Asli

e. Citra Foto Inframerah Modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dan sebagian spektrum tampak dari warna merah dan sebagian hijau.

Spketrum Inframerah Modifikasi

Citra Penginderaan Jauh

Citra :

gambaran suatu gejala atau objek hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optik, elektrooptik maupun elektronik.

Citra merupakan salah satu jenis data hasil penginderaan jauh yang berupa data visual/gambar. Citra sering disebut dengan Image atau Imagery. Hasil penginderaan jauh selain citra misalnya adalah data digital atau data angka/numerik.

Citra dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

1. Citra Foto (photographic image)

yaitu citra yang yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor kamera fotografik.

2. Citra Nonfoto (nonphotographic image)

yaitu citra yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor nonkamera yang merekam dengan cara memindai/scanning

Beberapa perbedaan antara citra foto dengan cira nonfoto antara lain :

No Variabel pembeda Citra Foto Citra Non Foto
1 Sensor Kamera - Non kamera, atas dasar pemindaian

- Kamera yang detektornya bukan film

2 Detektor Film Pita magentik, termistor, foto konduktif, foto voltaik
3 Proses perekaman Fotografik/kimiawi Elektronik
4 Mekanisme perekaman Serentak Parsial
5 Spektrum Elektromagnetik Tampak dan perluasannya Tampak perluasannya, termal serta gelombang mikro

Metode Pengkajian Interpretasi Citra

Pekerjaan Interpretasi Citra dimulai dari kegiatan mengkaji suatu obyek pada citra sesuai dengan tujuan interpretasi.

Metode Pengkajian :

Suatu cara bersistem dalam menelaah atau melakukan penyelidikan terhadap obyek pada citra.

Kegiatan Interpretasi citra mengikuti metode tertentu yaitu :

  • Pengamatan mulai dari obyek umum ke obyek khusus
  • Pengamatan mulai dari obyek yang sudah diketahui ke obyek yang belum diketahui.

Metode pengkajian dalam kegiatan interpretasi citra secara umum menggunakan 2 macam metode, antara lain :

1. Fishing Expedition

Metode pengkajian obyek pada citra dengan cara melakukan pengamatan ke seluruh wilayah dan disertai dengan pengambilan data. Kegiatan ini mirip dengan orang yang memancing, seluruh daerah perairan dijelajahi untuk mencari ada tidaknya ikan. Sehingga metode ini kemudian disebut dengan metode “Fishing Expedition” atau “Ekspedisi Memancing”

Fishing Expedition

2. Logical Search

Pada metode ini pengamatan terhadap seluruh wilayah pada citra dilakukan tetapi pengambilan data hanya dilakukan secara selektif pada daerah-daerah tertentu yang sesuai dengan tujuan interpretasi.

Logical Search

Konsep Multi Pada Kegiatan Interpretasi Citra

Konsep multi adalah cara memperoleh data dan menganalisis penginderaan jauh yang meliputi 6 konsep, yaitu :

1. Multi Spektrum

Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan banyaknya warna.

Pemanfaatan banyaknya warna dalam mengkaji kasus Lumpur Lapindo

Pemanfaatan citra/foto udara banyak warna untuk mengkaji kasus Lumpur Lapindo

2. Multi Tingkat

Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian terbang atau orbit wahana pada saat melakukan inderaja

Pemanfaatan citra/foto udara yang memiliki perbedaan tinggi terbang pada saat pemotretan

3. Multi Polarisasi

Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data inderaja dengan memanfaatkan bidang obyek yang terekam oleh sensor, apakah mengikuti bidang horisontal atau vertikal

4. Multi Arah

Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauah dengan memanfaatkan sensor yang dapat diatur ke segala arah untuk meningkatkan kemampuan pengadaan data inderaja, terutama di daerah tropik yang banyak tertutup awan.

5. Multi Temporal

Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan waktu perekaman yang berbeda. Obyek yang tergambar dalam citra menggambarkan kondisi dan waktu perekaman yang berbeda-beda.

Citra/foto udara pada wilayah yang sama dan dipotret pada waktu yang berbeda untuk pengamatan perubahan lahan di pelabuhan Aceh.

6. Multi Disiplin

Data yang terdapat dalam citra dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang keilmuan.

Berbagai bidang ilmu memanfaatkan hasil penginderaan jauh

Pengamatan Stereoskopis

Pengamatan Stereoskopis

Adalah suatu kegiatan interpretasi citra/ foto udara dengan menggunakan alat bantu yang bernama stereoskop. Pada kegiatan pengamatan ini stereoskop berfungsi untuk menampilkan gambar 3 dimensi.

Gambar 3 dimesi dari citra yang diinterpretasi akan memudahkan pengamatan. Bidang 3 dimensi menunjukkan obyek yang mempunyai unsur ukuran lebar, panjang dan tinggi. Bidang 3 dimensi memungkinkan dilakukan pengamatan terhadap beda tinggi dan kemiringan lereng suatu obyek.

Pengamatan Stereoskopis

Foto udara pada umumnya lebih banyak menampilan gambar 2 dimensi, terutama pada foto udara tegaklurus. Untuk dapat menampilkan bentuk 3 dimensi dari foto udara yang diamati, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :

  1. Terdapat daerah bertampalan pada foto udara. Setiap foto udara/citra yang akan diinterpretasi harus merupakan foto udara/citra yang berurutan garis terbangnya dan mempunyai daerah tampalan (pada foto 1 ada sebagian wilayah yang sama dengan foto 2)
  2. Untuk dapat diinterpretasi dengan jelas maka lebar daerah yang bertampalan kira-kira 1/3 – 2/3 dalam sebuah foto/citra.

Daerah bertampalan

Prinsip kerja stereoskop adalah sebagai berikut :

  1. Mata 1 (mata kanan) mengamati citra sebelah kanan
  2. Mata 2 (mata kiri) mengamati citra sebelah kiri
  3. Stereoskop menyatukan daerah bertampalan sehingga seolah-olah hanya mengamati 1 citra saja
  4. Daerah bertampalan menghasilkan gambar 3 dimensi yang dapat digunakan untuk mengamati unsur ketinggian dan kemiringan.

Prinsip Pengamatan Stereoskopis

Penanganan Data Interpretasi Citra

Penanganan Data Interpretasi Citra (data handling) :

Cara yang digunakan untuk mengelola hasil interpretasi penginderaan jauh. Data hasil interpretasi penginderaan jauh dapat berupa :

  1. Potongan-potongan citra yang diinterpretasi
  2. Kertas/plastik transparansi yang digunakan untuk interpretasi

Tujuan dari penanganan data interpretasi citra adalah untuk memelihara citra atau plastik transparansi agar tidak tergores atau bahkan mengalami kerusakan sehingga menyebabkan citra tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan interpretasi.

Cara penanganan data (data handling) interpretasi citra misalnya :

1. Menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan menghadap ke atas

Penanganan Data 1

2. Mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan dilaksanakan dan memberikan penyekat di antaranya

Penanganan data 2

3. Meletakkan tumpukan citra hingga membentuk jalur terbang membentang dari arah kiri ke kanan terhadap pengamat

Penanganan Data 3

4. Meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding di sebelah citra yang akan diinterpretasi

Penanganan Data 4

5. Pada saat citra dikaji, tumpukkan menghadap ke bawah dalam urutannya.

Penanganan Data 5

Kunci Interpretasi

Kunci interpretasi citra pada umunya dapat berupa potongan citra yang telah diinterpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan sebelumnya. Keterangan pada kunci interpretasi ini dapat berupa :
  • Jenis obyek yang digambarkan
  • Unsur interpretasi yang digunakan
  • Keterangan tentang citra meliputi jenis, skala, waktu pemotretan dan lokasi daerahnya

Kunci interpetasi citra dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan interpretasi citra.

Atas dasar ruang lingkupnya kunci interpretasi terdiri dari :

1. Kunci Individual (item key)

Adalah kunci interpretasi citra yang digunakan untuk obyek individual. Misalnya rumah.

Kunci Individu

Kunci Individu

2. Kunci Subyek (subject key)

Adalah kunci interpretasi citra yang digunakan untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi penting dalam suatu subyek/kategori tertentu. Misalnya perumahan penduduk, perumahan umum.

Kunci Subyek

Kunci Subyek

3. Kunci Regional (regional key)

Adalah himpunan kunci individu atau kunci subyek untuk identifikasi obyek-obyek atau wilayah tertentu. Misalnya wilayah administratif dan daerah aliran sungai (DAS)

Kunci Regional

Kunci Regional

4. Kunci Analog (analogue key)

Adalah kunci subyek atau kunci regional suatu daerah yang tidak terjangkau secara terestrial, tetapi dipersiapkan untuk daerah lain yang serupa. Misalnya hutan Hutan di Kalimantan untuk interpretasi hutan Papua. Namun cara ini tidak dianjurkan kecuali untuk keadaan darurat.

Atas dasar lainnya terdiri dari :

1. Kunci Langsung (direct key)

Adalah kunci interpretasi yang disiapkan untuk obyek atau kondisi yang tampak langsung. Misalnya bentuk lahan, pola aliran permukaan.

Kunci Langsung

Kunci Langsung

2. Kunci Asosiatif (associative key)

Adalah kunci interpretasi yang digunakan untuk deduksi informasi yang tidak tampak langsung pada citra. Misalnya tingkat bahaya erosi dan penaksiran jumlah penduduk.

Kunci Asosiatif

Kunci Asosiatif

Data Acuan Pada Interpretasi Citra

Citra menyajikan gambaran yang lengkap miri dengan wujud dan letak sebenarnya. Akan tetapi dalam melakukan interpretasi suatu obyek/fenomena / gejala pada citra masih diperlukan data lain yang lebih meyakinkan hasil interpretasi. Data yang diperoleh selain dari kegiatan interpretasi ini disebut dengan data acuan. Data acuan pada kegiatan interpretasi citra digunakan untuk membantu proses interpretasi, analisis dan verifikasi hasilnya.

Data Acuan

Data Acuan

Data acuan dapat berupa :

  • Data kepustakaan
  • Data peta
  • Data statistik
  • Data hasil kerja lapangan dan lain-lain

Meskipun citra menyajikan gambaran lengkap, pada umumnya masih perlu dilakukan kegiatan lapangan (observasi ). Observasi dilakukan untuk menguji atau meyakinkan kebenaran hasil interpretasi yang telah dilakukan. Observasi atau uji medan (field check) perlu dilakukan terutama pada tempat-tempat yang interpretasinya meragukan.

Hasil interpretasi yang memerlukan uji medan antara lain dipengaruhi oelh faktor-faktor berikut :

  • Kualitas citra meliputi skala, resolusi dan informasi yang harus diinterpretasi
Uji Lapangan dilakukan karan kualitas citra kurang baik

Uji Lapangan dilakukan karan kualitas citra kurang baik

  • Jenis Interpretasi atau analisisnya
  • Tingkat ketelitian yang diharapkan
  • Pengalaman dan pengetahuan pengguna dalam melakukan interpretasi
  • Kondisi medan
  • Ketersediaan data acuan

Teknik Interpretasi Citra

Teknik Interpretasi Citra adalah cara-cara khusus untuk melaksanakan metode penginderaan jauh secara ilmiah. Teknik ini terdiri atas cara-cara interpretasi dengan mempertimbangkan kemudahan pelaksanaan interpretasi, akurasi hasil interpretasi atau jumlah informasi yang diperoleh.

Teknik Interpretasi Citra

Teknik Interpretasi Citra

Cara-cara interpretasi citra terdiri atas :

1. Data Acuan

Merupakan kumpulan data pendukung untuk kegiatan interpretasi. Data ini bersifat melengkapi data yang terdapat pada citra. Contoh data acuan ini dapat berupa :

  • Data pustaka/kepustakaan
  • Peta
  • Hasil kerja lapangan dll

Data acuan berguna untuk membantu proses interpretasi, analisis dan verifikasi hasilnya.

2. Kunci Interpretasi

Kunci interpretasi pada citra umumnya berupa potongan citra yang telah di interpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan berupa jenis obyek yang digambarkan, unsur interpretasi, serta keterangan tentang citra meliputi :

  • jenis citra yang digunakan
  • skala citra
  • waktu perekaman
  • lokasi yang diinterpretasi

3. Penanganan Data

Data yang tersimpan dalam citra perlu dijaga agar tidak menimbulkan goresan atau terhapus, sehingga perlu penanganan yang hati-hati pada setiap citra.

4. Pengamatan Stereoskopis

Adalah suatu kegiatan menafsir citra dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan stereoskop. Salah satu syarat dapat dilakukan pengamatan stereoskopis adalah adanya daerah yang bertampalan pada sebuah foto udara. Pengamatan stereoskopis pada citra yang bertampalan akan menimbulkan gambaran tiga dimensi. Jenis citra yang umum untuk pengamatan stereoskopis adalah foto udara.

5. Metode Pengkajian

Adalah suatu cara yang bersistem dalam menelaah atau melakukan penyelidikan terhadap obyek.

6. Penerapan Konsep

Data inderaja diperoleh dengan menerapkan konsep multi, yang terdiri atas konsep multispektrum, multitingkat, multitemporal, multiarah, multipolarisasi dan multidisiplin.

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Pemetaan

Pemanfaatan foto udara/citra hasil penginderaan untuk kegiatan pemetaan merupakan kegiatan yang umum dilakukan pada saat sekarang. Kegiatan pemetaan menggunakan foto udara lebih mudah dilakukan daripada pemetaan secara manual. Beberapa keunggulan pemetaan menggunakan teknologi inderaja antara lain :

  • Hasil inderaja dapat digunakan untuk memetakan daerah yang sangat luas dengan cepat, pemetaan manual biasanya hanya digunakan untuk memetakan daerah yang sangat sempit.
  • Berbiaya lebih murah.
  • Dapat memetakan bermacam-macam peta tematik sekaligus
  • Proses pembuatan lebih cepat

Salah satu contoh pemanfaatan teknologi inderaja untuk kegiatan di bidang pemetaan misalnya untuk pemetaan daerah rawan genangan air di wilayah Jakarta. Untuk membuat peta ini diperlukan lebih dahulu foto udara wilayah Jakarta untuk di interpretasi lebih lanjut.

Foto Udara Wilayah Jakarta

Foto Udara Wilayah Jakarta

Tahapan dalam pemetaan menggunakan hasil inderaja ini dengan membuat pola dengan menggunakan data inderaja yang di awali dengan penggabungan foto udara dalam bentuk mozaik guna membatasi wilayah yang akan dipetakan.

Dari foto udara wilayah Jakarta misalnya di interpretasi pada tempat-tempat yang :

  • Memiliki ketinggian lebih rendah/sama dari permukaan air laut.
  • Berbentuk cekungan/basin.
  • Terletak di bantaran/pinggiran sungai.
  • Permukiman padat
  • Tidak memiliki lahan terbuka.
  • Tidak memiliki daerah resapan air

Wilayah yang diinterpretasi tersebut kemudian dideliniasi untuk membedakan dengan wilayah yang tidak rawan tergenang. Hasil deliniasi kemudian dapat dibuat dan diproses lebih lanjut menjadi peta daerah rawan genangan air.

Peta Daerah Rawan Genangan Air

Peta Daerah Rawan Genangan Air

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Meteorologi dan Klimatologi

Pemanfaatan aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi memiliki acuan yang sangat luas. Data yang dihasilkan oleh inderaja penting untuk diterapkan guna mengetahui keadaan lingkungan atmosfer. Guna memperoleh data lingkungan tentang atmosfer melalui inderaja, wahana yang diperlukan adalah satelit. Di antara satelit-satelit yang digunakan untuk informasi lingkungan atmosfer misalnya Synchronous Meteoroligical Satellite (SMS) yang diluncurkan pada tanggal 17 Mei 1974. Generasi ke-tiga dari satelit tersebut diganti namanya menjadi Geosyncronous Operational Environment Satellite (GOES) yang diluncurkan pada 16 Oktober 1975.

Pemanfaatan Satelit MODIS untuk perekaman kondisi atmosfer secara harian. (Sumber : www.lapanrs.com)

Pemanfaatan Satelit MODIS untuk perekaman kondisi atmosfer secara harian. (Sumber : www.lapanrs.com)

Aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi antara lain sebagai berikut :

  • Melakukan perekaman terhadap pola awan guna mengetahui bidang pergerakan tekanan udara.
  • Melakukan perekaman terhadap tingkat per-awanan dan kandungan air di udara untuk mengetahui keadaaan cuaca dan iklim.

Dari hasil perekaman seperti yang telah disebutkan di atas kemudian dapat dibuat peta animasi kondisi cuacanya. Untuk melihat beberapa contoh hasil-hasil penginderaan jauh dapat anda lihat di situs LAPAN.

Hasil perekaman kondisi atmosfer dapat di buat peta animasinya. (Klik untuk melihat animasi)

Hasil perekaman kondisi atmosfer dapat di buat peta animasinya. (Klik untuk melihat animasi)

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Kependudukan

Pengeinderaan jauh menghasilkan data yang ringkas tentang lingkungan yan berkenaan dengan bumi. Salah satu aplikasi yang nyata dari pemanfaatan hasil pengeinderaan jauh dalam bidang kependudukan adalah untuk memetakan distribusi spasial penduduk.

Pemanfaatan Inderaja Di Bidang Kependudukan

Pemanfaatan Inderaja Di Bidang Kependudukan

Selain pemetaan distribusi spasial kependudukan, data inderaja juga dapat dimanfaatkan untuk meneliti dampak keberadaan manusia dalam lingkungan hidup.

Oleh karena ukuran penduduk terlalu kecil, pola distribusinya hanya dapat diinterpretasi secara tidak langsung, yaitu berdasarkan pola permukiman penduduk atau bukti lain yang tampak. Pola permukiman penduduk itu sendiri dapat diketahui dengan menginterpretasikan bentuk lahan dan penggunaanya.

Pemanfaatan Inderaja Di Bidang Kependudukan

Pemanfaatan Inderaja Di Bidang Kependudukan

Manfaat Penginderaan Jauh

Tujuan utama dari penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data seumber daya alam dan lingkungan. Penginderaan jauh makin banyak dimanfaatkan karena berbagai macam alasan sebagai berikut :
  • Citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa danpegunungan.
Manfaat penginderaan jauh

Manfaat penginderaan jauh

Daerah Pedalaman Papua

Daerah Pedalaman Papua

  • Citra menggambarkan obyek dipermukaan bumi dengan wujud dan letak objek mirip dengan sebenarnya, gambar relatif lengkap, liputan daerah yang luas dan sifat gambar yang permanen
  • Citra tertentu dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga dimensi itu sangat menguntungkan karena menjyajikan model obyek yang jelas, relief lebih jelas, memungkinkan pengukuran beda tinggi, pengukuran lereng dan pengukuran volume.
  • Citra dapat menggambarkan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya. Sebagai contoh adalah terjadinya kebocoran pipa bawah tanah.
  • Citra sebagai satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana.

Inderaja memiliki peran yang sangat besar dalam sistem informasi data dan pengelolaannya. Peran tersebut antara lainuntuk mendeteksi perubahan data dan pengembangan model di berbagai kepentingan.

Konvergensi Bukti Pada Interpretasi Citra

Konvergensi bukti dapat diartikan penggunaan kombinasi unsur-unsur interpretasi sebagai pengumpulan dan pemilahan bukti untuk menyimpulkan suatu obyek yang terdapat pada citra.

Di dalam mengenali obyek pada citra hendaknya tidak hanya menggunakan satu unsur interpretasi saja, tetapi dianjurkan untuk menggunakan unsur sebanyak mungkin. Semakin banyak menggunakan kombinasi unsur-unsur interpretasi, semakin menciut lingkupnya ke arah titik simpul tertentu. Jadi konvergensi bukti dapat pula dikatakan sebagai bukti-bukti yang mengarah pada simpul-simpul tertentu.

Salah satu contoh penerapan konvergensi bukti dalam mengenali obyek pada citra misalnya dalam mengenali pohon.

Konvergensi bukti pengenalan obyek.

Konvergensi bukti pengenalan obyek.

Unsur-unsur yang digunakan dalam identifikasi misalnya :

1. Bentuk

Pada sebuah citra terlihat kumpulan pepohonan dengan bentuk tajuknya seperti bintang. Dengan melihat bentuk tajuk dapat diidentifikasi pohon tersebut adalah pohon jenis palme, tetapi ini masih belum rinci karena pohon jenis palma banyak contohnya misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, enau dan nipah

2. Pola

Dengan menambahkan unsur pola maka dari hasil pengamatan diketahui pohon tersebut memiliki pola tanam yang tidak teratur. Dari kelima jenis pohon yang disebutkan tadi kemudian diklasifikasi :

  • Kelapa sawit dan kelapa mempunyai pola tanam yang teratur karena kedua tanaman ini banyak dibudidayakan oleh manusia.
  • Enau, sagu dan nipah mempunyai pola yang tidak teratur karena pohon ini banyak yang tumbuh secara alamiah dan tidak dibudidayakan oleh manusia

Dari data tersebut makan identifikasi mengerucut pada pohon sagu, enau dan nipah saja

3. Ukuran

Penggunaan unsur ukuran digunakan untuk melihat berap tinggi pohon tersebut melalui interpretasi citra. Jika pohon yang terdapat pada citra mempunyai tinggi 10 meter atau lebih maka kemungkinannya tinggal 2 yaitu pohon nipah dan sagu.

4. Situs

Penggunaan unsur situs digunakan untuk mengamati lingkungan sekitar pohon tersebut. Jika dari hasil pengamatan diketahui pohon tersebut terdapat di daerah bertanah becek dan berair payau, maka kemungkinan obyek tersebut menciut ke satu titik simpul. Tumbuhan tersebut tidak lain adalah sagu, karena enau merupakan tumbuhan darat yang tidak terdapat di daerah air payau.

Unsur Asosiasi Pada Interpretasi Citra

Asosiasi diartikan sebagai keterkaitan antara obyek satu dengan obyek lain. Karena adanya keterkaitan itu, maka terlihatnya suatu obyek sering merupakan petunjuk bagi obyek lain.

Keterkaitan suatu obyek dengan obyek lain dapat dimaksudkan sebagai berikut :

  • Sebuah obyek A dapat dikenali karena adanya obyek B yang mempunyai kaitan/hubungan dengan obyek A.
  • Dengan kata lain obyek B merupakan petunjuk bagi obyek A.
  • Obyek B dapat merupakan bagian dari obyek A, atau merupakan ciri-ciri khusus obyek A.
  • Obyek B belum tentu ciri-ciri khusus obyek A, tetapi sangat berhubungan dengan obyek A.

Beberapa contoh obyek dalam citra yang dapat dikenali melalui interpretasi mengggunakan unsur asosiasi misalnya :

1. Lapangan Sepakbola

Sebuah obyek dikenali sebagai lapangan sepakbola jika lapangan tersebut memiliki gawang pada dua sisi lapangannya. Jika tidak terlihat adanya gawang maka obyek tersebut belum tentu merupakan lapangan sepakbola, bisa lapangan lain. Obyek gawang dapat dikatakan sebagai ciri-ciri khas dari lapangan sepakbola.

Lapangan Sepakbola berasosiasi dengan gawang yang ada di dua sisi lapangan.

Lapangan Sepakbola berasosiasi dengan gawang yang ada di dua sisi lapangan.

2. Stasiun Kereta Api

  • Sebuah bangunan dengan bentuk memanjang dikenali sebagai stasiun kereta api jika pada sekitar bangunan tersebut terdapat rel kereta api lebih dari satu jalur. Rel bukan merupakan ciri-ciri bangunan stasiun tetapi sangat berhubungan dengan keberadaan stasiun.
  • Selain jumlah rel, bangunan stasiun kereta api dapat juga di asosiasikan dengan adanya gerbong-gerbong yang diparkir karena belum/tidak beroperasi.

Stasiun Kereta Api berasosiasi dengan adanya rel di sekitarnya yang berjumlah lebih dari satu.

Stasiun Kereta Api berasosiasi dengan adanya rel di sekitarnya yang berjumlah lebih dari satu.

3. Terminal Bis

Sebuah obyek dikenali sebagai terminal bis jika pada lahan bagian dalam terminal tersebut berupa lahan parkir yang dipenuhi oleh bus/kendaraan angkutan umum. Lahan parkir di bagian dalam merupakan ciri-ciri terminal, sedangkan bus/angkutan umum yang sedang diparkir bukan ciri-ciri terminal tetapi keduanya sangat berkaitan dengan bangunan terminal itu sendiri.

Terminal diasosiasikan dengan adanya lahan parkir di dalam yang dipenuhi oleh bus/kendaraan angkutan umum

Terminal diasosiasikan dengan adanya lahan parkir di dalam yang dipenuhi oleh bus/kendaraan angkutan umum

4. Bandara/Lapangan Terbang

Sebuah obyek dikenali sebagai bandara/lapangan terbang jika di sekitar landasan terdapat hanggar dan area parkir untuk pesawat.

Bandara/Lapangan Terbang

Bandara/Lapangan Terbang

5. Bangunan Sekolah

Sebuah bangunan dikenali sebagai sekolah jika di sekitar/dalam kompleks bangunan tersebut memiliki lapangan untuk kegiatan olahraga seperti lapangan basket, tenis, voli atau badminton.

Bangunan Sekolah

Bangunan Sekolah

 

RAJIN PANGKAL PANDAI Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates