Selamat Datang Di Blog e-edu
Masuk Klik Di sini
Masuk Klik Di sini

Jumat, 23 Maret 2012

Tinggalkan Pola 4 Sehat 5 Sempurna

Makanan yang dikomsumsi manusia seharusnya sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Seimbang dn tidak berlebihan.Seperti kita ketahui bersama, saat ini menu 4 (empat) sehat 5 (lima) sempurna atau 4S5S merupakan pola makan standar yang dianjurkan pemerintah sebagai pemenuhan gizi seimbang tubuh yang bagus.

Makanan harus mengandung protein karbohidrat, mineral, lemak, dan bervitamin. Makanan yang sehat berguna untuk membina tubuh bahkan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak, dan proses pencernaan akan menghasilkan panas dan energi yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Saya pribadi menanyakan kembali bagaimana kaitannya dengan kondisi sekarang ini, apa tidak sebaiknya pemerintah merevisi anjuran yang sudah terlanjur mendarah daging di setiap eleman masyarakat. Bahkan anak TK saja bisa ngomong bahwa makan yang bagus adalah makanann yang memenuhi standar 4S5S.

Jika ditinjau komposisinya maka makanan 4S5S secara porsi dan ragam makanan yang harus dimakan cukup bervariasi. Sesuai dengan ajaran food combining hal ini sudah tidak sesuai lagi. Beberapa pengalaman orang yang menerapkan pola food combining dapat lebih prima dibandingkan orang yang tidak mengatur pola makannya. Bahkan air putih sebagai penunjang kesehatan juga tidak tercantum dalam kandungan 4S5S.

Saya sebagai pribadi yang dulu selalu penyakitan justru lebih baik dan lebih prima dengan menghilangkan standar pola makan 4S5S. Fisik saya berangsur baik ketika saya kembali pada pola alami.

Saya banyak mengambil hikmah dari ilmu pola makan tradisional leluhur di Jawa. Mulai dari Jawa Timur, Yogya, Betawi, Banten, maupun Rawayan atau Suku Baduy yang menekankan pembatasan variasi dan jumlah asupan makanan ke dalam tubuh.Ajaran ini dinamakan dengan prehaten atau laku. Dikaitkan dengan ajaran Islam bahwa manusia tidak boleh berlebihan dalam segala sesuatu, berhenti makan sebelum kenyang, atau mengurangi makan dengan puasa sunah, puasa di bulan Romadhon maka filosofis pola makan di Jawa dan pola makan secara Islam adalah dua hal yang seiring sejalan.

Harmoni dan satu pemahaman walaupun dengan penerapan yang berbeda-beda. Di Jawa ditekankan bahwa untuk memahami hidup harus menjalani laku agar manusia dapat mengendalikan dirinya dari godaan hawa nafsu. Laku yang dijalani dengan puasa mutih, puasa makan buah-buahan atau puasa sehari semalam, dst.

Acuan keilmuan medis berorientasi ke barat. Terdapat perbedaan tajam antara sudut pandang dan pola pikir ala barat dan timur. Di Timur pola pemikiran seimbang dengan menggunakan landasan spiritual dan logika. Sedangkan di barat lebih ditekankan kepada logika. Semua sudut pandang mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Tetapi sebagai orang timur yang mempunyai warisan nilai-nilai leluhur tidak ada salahnya dikaji kembali dan dipadukan dengan keilmuan barat dalam sebuah harmonisasi dan bukan ditinggalkan dengan mengganti yang baru.

Kita sendiri sebagai bangsa tidak pernah menggali secara mendalam apa saja kekayaan nilai warisan leluhur kita, tetapi langsung diajarkan pemikiran ala barat. Kesan yang timbul adalah bangsa ini dulu bodoh. Seharusnya dibedakan menjadi bangsa ini tertinggal dalam keilmuan logika, tetapi tidak ketinggalan dalam keilmuan spiritual. Maka seharusnya lebih baik kita belajar nilai luhur bangsa ini dan baru dilengkapi dengan keilmuan logika barat. Semua akan lebih manusiawi dan bermakna. Saya sering bertemu dengan orang yang lama di luar negeri dan akhirnya memilih kembali ke Indonesia saat masa tuanya. Alasan mereka kembali ke Indonesia karena di barat tidak kaya dengan nilai-nilai humanisme dalam hidup.

Kembali pada 4S5S.

Apa tidak sebaiknya ditinjau kembali. Pola makan yang lebih mengutamakan kuantitas dan bukan kualitas. Pola makan lebih ditujukan pada rasa “enak” dan bukan pada rasa sehat. Pola makan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan nafsu daripada perasaan menerima. Bahkan apa tidak lebih baik kita tinggalkan.

Esensi hidup adalah keseimbangan lahir dan batin. Makanan enak bukan pada apa yang dimakan tetapi lebih ditekankan pada perasaan saat kita makan. Enak atau tidak tergantung pada rasa dan persepsi pada saat kita makan. Kebiasaan dan dibiasakan. Saat kita sakit maka semua makanan menjadi tidak enak. Saat kita marah dan sedih maka makanan 4S5S juga sama tidak enaknya. Tetapi hidup bersyukur menerima apa adanya, makan secukupnya yang berasal tumbuhan dan buah-buahan yang tumbuh di sekitar kita, tidak ada pemborosan adalah pola hidup yang paling sempurna menuju kesehatan lahir dan batin.

Kebahagiaan adalah saat kita mampu bersyukur atas semua rahmat dan karuniaNya.


Makanan 4 Sehat 5 Sempurna:
1. Makanan Pokok.
2. Lauk-Pauk.
3. Sayur-Mayur.
4. Buah.
5. Susu.


Benarkah?
Lantas, kenapa banyak orang2 yang miskin dan pola makannya sangat sederhana, tidak sesuai dengan 4 sehat 5 sempurna, namun tubuh mereka kuat2 dan sehat?
Rupanya istilah 4 Sehat 5 Sempurna sendiri masih diperselisihkan oleh para ahli kedokteran sendiri, ada yang pro dan ada yang kontra terhadap istilah tersebut.

Lantas bagaimana pandangan ulama Islam terhadap makanan yang sehat?

Imam Ahmad mengatakan, “Jika dalam satu makanan terkumpul 4 (empat) hal, maka makanan tersebut adalah makanan yang sempurna. Empat hal tersebut adalah menyebut nama Allah saat mulai makan, memuji Allah di akhir makan, banyaknya orang yang turut makan dan berasal dari sumber yang halal.”

Kesimpulannya adalah,
Makanan 4 sehat 5 sempurna yaitu:

1. Membaca “Bismillah” ketika mulai makan.
2. Memuji Allah di akhir makan.
3. Banyaknya orang yang turut makan.
4. Berasal dari sumber yang halal.
dan yang ke 5. Ittiba (mengikuti Sunnah Nabi).

Ingat, kesehatan jiwa lebih diutamakan dari kesehatan fisik.
Wallahu a’lam.

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

0 komentar to “Tinggalkan Pola 4 Sehat 5 Sempurna”

Posting Komentar

 

RAJIN PANGKAL PANDAI Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates