Gunung Berapi Indonesia yang terkenal di Dunia karena letusannya
Toba Supervolcano
Merupakan letusan gunung berapi yang paling dahsyat yang pernah diketahui di planet Bumi ini. Dan hampir memusnahkan generasi umat manusia di planet Bumi. 73.000 tahun yang lalu letusan dari supervolcano di Indonesia hampir memusnahkan seluruh umat manusia. Hanya sedikit yang selamat. Dan setelah Tsunami Gunung Berapi Di Indonesia menjadi Aktif sekali lagi dan mengancam umat manusia. Letusan ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang telah dialami di bumi sejak masa dimana manusia bisa berjalan tegak. Dibandingkan dengan SuperVolcano Toba, bahkan krakatau yang menyebabkan sepuluh ribu korban jiwa pada 1883 hanyalah sebuah sendawa kecil. Padahal krakatau memiliki daya ledak setara dengan 150 megaton TNT. Sebagai perbandingan: ledakan Bom Nuklir hiroshima hanya memiliki daya ledak 0,015 megaton, dan secara lisan maka daya musnahnya 10.000 kali lebih lemah dibanding krakatau.
Seperti yang telah diketahui oleh para ilmuwan, toba hampir memusnahkan umat manusia 73.00 tahun yang lalu. Saat itu manusia neanderthal menghuni bumi kita bersamaan dengan homo sapiens di eropa, serta homo erectus dan homo floresiensis di asia. Saat itu sangat dingin di eropa, Zaman es terakhir ini berjalan lancar dimana kijang, kuda liar dan rusa raksasa diburu. Selain makanan herbivora, mammoth dan badak berbulu juga seringkali menjadi menu makanan manusia saat Toba, dengan diameter 90 kilometer di pulau yang sekarang dikenal dengan nama Sumatera.Meledak dalam arti yang sebenarnya.
Bersamaan dengan gelombang besar tsunami, ada 2.800 kilometer kubik abu yang dikeluarkan, yang menyebar ke seluruh atmosfir bumi kita. Yang mungkin telah mengurangi jumlah populasi manusia menjadi hanya sekitar 5000 sampai 10000 manusia saja.
Sebenarnya manusia jaman sekarang berasal dari beberapa ribu manusia yang selamat dari letusan super volcano Toba 73.000 tahun yang lalu.
Oleh karena itu Gunung berapi di Indonesia bertanggung jawab atas hampir musnahnya umat manusia. Dan Dari 60 hingga 70 gunung berapi yang dapat ditemuai di area tersebut(Indonesia) sekarang. Beberapa diantaranya menjadi aktif kembali dalam beberapa bulan maupun beberapa minggu setelah gempa di dasarlaut pada bulan desember 2004.
Walaupun Toba sampai saat ini masih tertidur jauh dan aman dibawah sebuah laut besar yang menyandang nama sama di Sumatera Utara. banyak orang yang takut apabila suatu saat Gunung Berapi aktif di Talang yang berada 300 kilometer di selatan Toba meletus, bisa membangunkan Raksasa yang tertidur.
Vulkanologis Prof. Ray Cas mengatakan ‘Hal itu mungkin saja terjadi, tapi bila hanya Toba siap untuk meletus dan kejadian diatas bukanlah satu-satunya indikasi akan kejadian tersebut.”
Sang ahli tersebut berpikir bahwa mungkin saja suatu hari nanti letusan besar lain akan terjadi tapi hal itu baru akan mungkin terjadi sekitar 10.000 atau bahkan 100.000 tahun lagi.Tetapi biar bagaimana pun tidak semua hal dapat diprediksi.
Gunung Tambora
Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.
Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.
Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.
Gunung Tambora
Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.
Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.
Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.
Maninjau
Kaldera Maninjau dibentuk oleh letusan gunung berapi diperkirakan terjadi sekitar 52.000 tahun yang lalu. Simpanan dari letusan telah ditemukan dalam distribusi radial sekitar Maninjau membentang hingga 50 km di sebelah timur, 75 km di tenggara, dan barat ke pantai ini. Deposito diperkirakan akan didistribusikan lebih dari 8.500 km ² dan memiliki volume 220-250 km ³. kaldera ini memiliki panjang 20 km dan lebar 8 km.
———————————————
Gunung Galunggung
Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar.
Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.
———————————————-
Gunung Kelud
Sejak abad ke-15, Gunung Kelut telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.
Pada abad ke-20, Gunung Kelut tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Gunung Merapi
Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia.
Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu.
Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
Sampai saat ini Merapi termasuk gunung dengan periode erupsi yang aktif, bahkan termasuk dalam kategori gunung paling aktif di dunia. Merapi memiliki periode letusan yang rutin kurang lebih setiap 4 tahun sekali.
Salah satu yang membuat Merapi begitu terkenal selain tingkat aktivitasnya, juga karena tipe letusannya. Setiap erupsi Merapi mengeluarkan awan panas dalam jumlah besar yang membahayakan penduduk-penduduk yang tinggal di daerah sekitar lereng. Oleh penduduk setempat awan panas itu sering disebut Wedhus Gembel, merujuk pada karakter awan berasap tebal yang mirip dengan bulu biri-biri/domba.
Gunung Merapi
Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia.
Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu.
Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
Sampai saat ini Merapi termasuk gunung dengan periode erupsi yang aktif, bahkan termasuk dalam kategori gunung paling aktif di dunia. Merapi memiliki periode letusan yang rutin kurang lebih setiap 4 tahun sekali.
Salah satu yang membuat Merapi begitu terkenal selain tingkat aktivitasnya, juga karena tipe letusannya. Setiap erupsi Merapi mengeluarkan awan panas dalam jumlah besar yang membahayakan penduduk-penduduk yang tinggal di daerah sekitar lereng. Oleh penduduk setempat awan panas itu sering disebut Wedhus Gembel, merujuk pada karakter awan berasap tebal yang mirip dengan bulu biri-biri/domba.
Krakatau
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
———————————————————————–
—————————————————————————–
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer.
Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.
Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.
Vulkanisme
Menyuburkan tanah
Pernahkah Anda berfikir kenapa penduduk Indonesia sebagian besar berada di pulau Jawa? Salah satu alasannya adalah pulau Jawa tanahnya subur. Kesuburan tanah ini diakibatkan oleh banyaknya gunung api yang terdapat di pulau Jawa. Ini barangkali salah satu manfaat kegiatan vulkanisme. Kenapa gunung api bisa menyuburkan tanah ?
Ketika gunung meletus banyak mengeluarkan abu. Abu vulkanik ini pada awalnya menutupi daerah pertanian dan merusak tanaman yang ada. Namun dalam jangka waktu setahun atau dua tahun saja, tanah ini menjadi jauh lebih subur. Kesuburan ini dapat bertahan lama bahkan bisa puluhan tahun. Selain itu tanah hancuran bahan vulkanik sangat banyak mengandung unsur hara yang menyuburkan tanah.
Galian
Bahan galian yang sangat berharga banyak dihasilkan gunung api. Pada saat gunung api masih aktif dihasilkan bahan galian seperti : belerang, pasir, batu bangunan, tras, batu apung, dan sebagainya. Sedangkan pada saat gunung api yang istirahat dapat dihasilkan bahan tambang seperti : emas, perak, besi, timah, marmer, dan lainnya. Di samping itu banyak pula batuan malihan akibat persinggungan magma dengan mineral tertentu, sehingga terbentuk cadangan mineral baru yang lebih berharga, seperti tembaga, batu pualam, dan kokas.
Wisata
Jika Anda pernah mengunjungi kawah Gunung Bromo di Jawa Timur atau Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat tentunya Anda akan bisa berceritera indahnya gunung api. Memang gunung api bisa menjadi obyek wisata alam yang menarik. Di sini kita bisa menyaksikan kepundan yang menarik, pemandangan yang indah, hawa yang sejuk dan segar, aroma bau belerang, atau keanehan dan keindahan lain yang hanya bisa ditemukan di sekitar gunung api.
Penangkap air hujan
Gunung api juga bermanfaat sebagai penangkap hujan yang baik. Dengan tanahnya yang subur, berakibat pada tumbuh suburnya berbagai tumbuhan dan hutan yang lebat. Ini berarti gunung berapi menjadi tempat reservoir air tanah yang sangat baik. Hutan lebat ini bisa menghasilkan mata air yang sangat berguna terutama sebagai sumber air di musim kemarau. Sedangkan musim hujan, hutan dapat menyerap air dan menahan erosi/longsor sehingga dapat mencegah terjadinya banjir.
Permasalahan Vulkanisme
Pengaruh kegiatan vulkanisme selain yang menguntungkan tadi, ternyata bisa menimbulkan masalah terutama terhadap lingkungan di sekitarnya. Gunung api khususnya saat meletus dapat membahayakan dan mengancam jiwa. Bahaya tersebut di antaranya:
1. Pada waktu terjadi letusan, semburan lapili, dan pasir panas dapat merusak bangunan, lahan pertanian, tanaman, bahkan hewan di sekitar gunung api. Abu vulkanik yang bisa menyebar secara luas juga dapat mengganggu dan membahayakan penerbangan. Aliran lava dan lahar panas dapat merusak bangunan dan lahan pertanian yang dilaluinya.
2. Gas beracun yang dikeluarkan pada saat erupsi dapat mengancam mahluk hidup termasuk manusia. Misalnya pada saat letusan kawah Timbangan dan Sinila tahun 1979, sekitar 149 jiwa manusia meninggal akibat menghirup gas beracun.
3. Bahan yang dikeluarkan gunung berapi biasanya menumpuk di puncak dan lereng-lereng gunung. Pada waktu hujan, bahan-bahan ini terbawa oleh air hujan menjadi lahar dingin. Lahar dingin akan merusak daerah yang dilaluinya, seperti sungai, lahan pertanian, rumah, dan lain-lain. Misalnya lahar dingin gunung Merapi di Jawa Tengah sering melanda daerah Magelang dan Yogyakarta.
Permasalahan Vulkanisme
Pengaruh kegiatan vulkanisme selain yang menguntungkan tadi, ternyata bisa menimbulkan masalah terutama terhadap lingkungan di sekitarnya. Gunung api khususnya saat meletus dapat membahayakan dan mengancam jiwa. Bahaya tersebut di antaranya:
1. Pada waktu terjadi letusan, semburan lapili, dan pasir panas dapat merusak bangunan, lahan pertanian, tanaman, bahkan hewan di sekitar gunung api. Abu vulkanik yang bisa menyebar secara luas juga dapat mengganggu dan membahayakan penerbangan. Aliran lava dan lahar panas dapat merusak bangunan dan lahan pertanian yang dilaluinya.
2. Gas beracun yang dikeluarkan pada saat erupsi dapat mengancam mahluk hidup termasuk manusia. Misalnya pada saat letusan kawah Timbangan dan Sinila tahun 1979, sekitar 149 jiwa manusia meninggal akibat menghirup gas beracun.
3. Bahan yang dikeluarkan gunung berapi biasanya menumpuk di puncak dan lereng-lereng gunung. Pada waktu hujan, bahan-bahan ini terbawa oleh air hujan menjadi lahar dingin. Lahar dingin akan merusak daerah yang dilaluinya, seperti sungai, lahan pertanian, rumah, dan lain-lain. Misalnya lahar dingin gunung Merapi di Jawa Tengah sering melanda daerah Magelang dan Yogyakarta.
REFLEKSI KEMATIAN MBAH MARIDJAN
Oleh : Budi Setiyarso
Mbah Maridjan
Setting morfologi puncak gunungapi aktif kuat dipengaruhi oleh sistem aliran lava. Morfologi ini mempengaruhi sistem aliran lava. Begitu juga sistem aliran lava akan mempengaruhi setting morfologi pasca vulkanisme. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan morfologi puncak dan jalur lava bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kuatnya gerusan lava dan besaran sedimentasi lava yang telah membeku.
Dugaan aliran lava akan membentuk pola yang tetap (tidak banyak berubah) sebagai buah perkembangan pengetahuan lokal (local knowledge) yang mendasarkan pada “ilmu titen” dari peristiwa-peristiwa di masa lampau (event) adakalanya bisa menjadi “salah”. Seperti itulah kasus tragedi “Mbah Maridjan” di Dusun Kinahrejo pada tanggal 26 Oktober 2010.
Selama kurun waktu 1911-2006, pola aliran awan panas dan lava Merapi memang mayoritas mengarah ke sisi barat dan barat laut lereng Merapi yaitu melewati Kali Krasak, Begog, Boyong, Blongkeng, Lamat dan Senowo. Permukiman penduduk yang berada di DAS ini dapat dikatakan lebih berbahaya dibandingkan dengan permukiman di DAS yang lain. Apalagi untuk permukiman di daerah lembah-lembah sungai. Oleh karena itu dapat kita amati sebaran permukiman di lereng ini lebih banyak kosongnya dibandingkan sisi lereng yang lain. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang berwujud penyesuaian manusia (adaptation) terhadap kejadian alam (natural event). Lihat sebaran endapan vulkanik berikut ini :
Setelah morfologi pembendung lava ke arah selatan (geger boyo) ambrol pada letusan tahun 2006, aliran awan panas dan lava Merapi lebih cenderung mengarah ke sisi selatan lereng yaitu melewati Kali Gendol. Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran karena secara tidak langsung, Merapi telah mengingatkan perubahan setting morfologinya.
Kearifan lokal seharusnya mampu menangkap signal yang dipancarkan Merapi ini. Sesuai kata Mbah Maridjan sendiri bahwa Merapi “sedang membangun” sistem aliran yang baru. Bisa jadi untuk letusan pasca 2006 dan seterusnya aliran awan panas dan lava banyak mengarah ke lereng selatan.
Kronologisnya, aliran lava dan awan panas ke arah selatan tahun 2006 memang belum “sempat” mampir ke Dusun Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal. Hal ini dikarenakan masih adanya bukit-bukit kecil di atas dusun yang mampu membendung aliran awan panas dan membelokkannya menjauh dari Dusun Kinahrejo. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan bukit-bukit itu mampu menahan kuatnya aliran lava dan awan panas?
Pertanyaan tersebut terjawab setelah letusan 26 Oktober 2010 terjadi. Letusan yang sudah menunjukkan gejala kejadian extreme itu melibas Dusun Kinahrejo dan menewaskan 24 orang. Awan panas tersebut mampu menerobos bukit pelindung dusun dan bahkan mampu melewati igir antara DAS Gendol dan DAS Kuning. Dimana Dusun Kinahrejo berada di igir tersebut.
Selain karena magnitude awan panas lebih besar dari tahun 2006 (Volcanic Explosion Index/VEI >2). Ada hal lain yang menyebabkan aliran awan panas mengarah ke Dusun Kinahrejo, yaitu terkait dengan ketimpangan morfologi akibat pengendapan lahar beku di Kali Gendol bagian timur. Sepanjang aliran Kali Gendol bagian timur terisi material-material yang terangkut erupsi Tahun 2006, sehingga aliran awan panas membludag ke arah barat.
Akhir kata banyak pelajaran yang dapat kita ambil dan kita renungkan dari peristiwa letusan Merapi tersebut yaitu :
- Setting morfologi gunungapi berubah dari waktu ke waktu, sehingga pengetahuan lokal perlu didampingi dengan pemetaan morfologi secara continue pasca vulkanisme. Sebab pengetahuan lokal ini akan berubah menjadi kepercayaan lokal yang akan meningkatkan ambang toleransi dan menurunkan kepekaan terhadap bencana
- Guguran awan panas selain disebabkan faktor gravitasi (mengalir melalui lembah sungai) juga dipengaruhi oleh angin, sehingga ada perubahan arah aliran yang terjadi tanpa dapat kita duga
- Merapi yang identik dengan erupsi efusif bisa saja berubah menjadi erupsi eksplosif sehingga pemodelan sistem aliran magma bisa berubah. Penduduk lereng Merapi harus waspada terhadap kemungkinan kejadian yang berbeda dan pandai-pandai melihat situasi
LETUSAN ST VINCENT MERAPI 2010
Oleh : Budi Setiyarso
6 Nopember 2010
Menurut teori tipe letusan, Merapi memang memiliki tipe sendiri yaitu tipe merapi (guguran) yaitu awan panas dan lava mengalir pada salah satu bagian lereng seperti jatuh karena gaya beratnya. Gaya berat awan panas dan lava lebih kuat mempengaruhi aliran daripada tekanan dari dalam bumi. Tetapi kenapa letusan 4 Nopember 2010 membentuk tipe St Vincent? (Kok Merapi menghianati karakternya? Melu-melu gunungapi luar negeri St Vincent?? Atau mungkin Merapi sudah kehilangan karakter kuat dan cerdasnya sehingga terpengaruh budaya gunungapi asing yang katanya nakal dan bringas???)
Tipe letusan memang bukan sebuah hak patent suatu gunungapi. Dalam hal ini bukan berarti Merapi selalu memiliki tipe guguran. Bisa jadi Merapi akan mengeluarkan tipe letusan yang berbeda seperti Stromboli, Pellean, Hawaiian, St Vincent dsb. Hal ini tergantung pada magnitude tekanan dari dalam bumi, karakter magma dan setting morfologi puncak. Penamaan tipe guguran melekat pada gunungapi Merapi hanyalah mendasarkan pada kebiasaan Merapi meletus dengan tipe itu. Jadi boleh dong sekali-kali Merapi mengganti gaya letusan yang lain biar gaul begitu…
Pemetaan kawasan bahaya untuk kepentingan tanggap darurat terutama untuk kegiatan pengungsian antara tipe letusan St Vincent dan tipe letusan guguran berbeda. Kalau tipe letusan guguran idealnya menggunakan model sektoral di lembah-lembah sungai terutama untuk daerah yang setting morfologinya berbahaya, tetapi untuk tipe St Vincent menggunakan model konsentris. Yaitu menggunakan radius melingkar dengan jarak tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai contoh radius 5 Km (sebelum 26 Oktober 2010), 15 Km (setelah 26 Oktober 2010) dan 20 Km (setelah 4 Nopember 2010). Jarak batas radius 20 Km dari puncak Merapi kalau diukur dari Ring Road utara Kota Jogja hanya sejauh 5 Km begitu juga jarak dengan jalan Solo-Jogja di Kalasan hanya sejauh 5 Km ke arah utara. Busyet !!! luas banget ya…
Jika dilihat dari Ring Road Kota Jogjakarta
Perbandingan dengan rumah saya (Matesih) dari puncak Gunung Lawu berjarak 15 Km dan dengan Kota Karanganyar hanya sejauh 25 Km. Jadi seandainya Lawu ikut-ikutan trend gunungapi yang lain mbledhug, kami bakalan kena gusuran pengungsian.
Letusan tipe St Vincent yang terjadi tanggal 4 Nopember 2010 membentuk kolom asap letusan setinggi hingga 8 Km. Letusan ini berbahaya karena bersifat jatuhan bebas dan tidak terpengaruh oleh setting morfologi puncak sebelum menyentuh permukaan bumi. Tipe letusan ini lebih dipengaruhi gaya berat material letusan dan sebagian kecil dipengaruhi oleh angin, sehingga sulit untuk diprediksikan arah dan jangkauan serangannya.
Sampai kapan letusan ini berakhir?
Letusan Merapi belum bisa diprediksikan sampai kapan berakhirnya. Apakah letusan 4 Nopember 2010 sudah merupakan klimaks atau masih ada letusan yang lebih hebat lagi. Tetapi menurut Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM (Dr Sukhyar), sistem aliran magma sudah terbuka sehingga kemungkinan besar aliran magma menjadi lancar dan magma kemungkinan akan mengalir seperti semula dengan tipe guguran. Arus magma keluar menjadi lancar karena sudah tidak ada halangan di puncak vulkan.
Semoga tidak ada letusan yang lebih dahsyat dari ini. Amin…
Baca juga : Refleksi Kematian Mbah Maridjan
Referensi :
Studi sensitivitas penduduk terhadap bahaya awan panas Gunungapi Merapi di Kawasan Rawan Bencana II dan III (Thesis UGM, Pak Yasin Yusuf)
ALIRAN PIROKLASTIK MERAPI 1 NOPEMBER 2010
Budi Setiyarso
Tulisan ini mencoba mengulas dimensi ruang Citra ASTER thermal NASA tertanggal 1 November 2010. Saya mendapatkan citra tentang aliran piroklastik Merapi tersebut dari dongeng geologi. Aliran piroklastik menurutnya adalah avalanche gas sangat panas, abu, dan batuan yang mengalir menyusuri salah satu sisi gunung berapi dengan kecepatan tinggi. Aliran itu menggambarkan arus awan panas.
Dengan Arc View 3.3 dan Google Earth saya ingin mengulas lebih jauh informasi spasial dari citra tersebut. Arc view mampu menampalkan image seperti di bawah ini :
Gambar raster aliran piroklastik yang sudah saya digit menjadi vector, kemudian saya overlaykan dengan DAS di Merapi tampak sebagai berikut :
Kemudian saya overlaykan juga dengan desa-desa di Merapi tampak sebagai berikut :
Kalau ditampilkan ke Google Earth tampak seperti berikut ini :
Adapun informasi yang dapat kita ambil adalah sebagai berikut :
- Luas aliran piroklastik tersebut adalah 126, 78 Ha
- Jangkauan dari puncak sepanjang 7,46 Km / melebihi radius bahaya I (5 Km)
- Aliran mengarah di DAS Gendol khususnya melewati bagian lembah / Kali Gendol
- Aliran menerjang beberapa permukiman di Desa Hargobinangun dan Desa Kepuhharjo
Baca juga :
Refleksi kematian Mbah Maridjan
Letusan St Vincent Merapi 2010
BAHAYA LAHAR DINGIN MERAPI 2010
Oleh : Budi Setiyarso
Bahaya gunungapi dibedakan menjadi bahaya primer (bahaya langsung) dan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung). Bahaya primer merupakan bahaya dampak hasil erupsi yang meliputi aliran lava, aliran piroklastik, bahan jatuhan dan gas. Bahaya sekunder merupakan bahaya dampak lanjutan erupsi seperti lahar, gerakan massa, tsunami dan hujan asam (Yasin Yusuf).
Sebelum mengulas lebih jauh alangkah baiknya kita cermati beberapa istilah kegunungapian berikut ini :
Aliran lava (lava flow) adalah magma yang keluar dari permukaan dan mengalir di permukaan yang berupa material magma (cairan silikat) murni bersuhu tinggi (bisa mencapai > 1300 derajat C)
Guguran lava adalah rock fall / jatuhan batuan yang terjadi di puncak gunungapi. Guguran ini terjadinya karena lava yang mendingin dan telah berubah menjadi batuan vulkanik membentuk sumbat lava (volcanic plug) yang menutupi seluruh atau sebagian lubang kepundan, Kemudian akibat tekanan magma dari dalam menyebabkan batuan ini hancur / jatuh.
Awan panas (wedhus gembel/glowing cloud) adalah produk erupsi gunungapi yang berupa semburan awan bersuhu tinggi (bisa mencapai 500 C atau lebih) dengan komposisi utama gas, uap air dan material padat seperti debu, kerikil, kerakal, lapili dan bom.
Lahar adalah campuran yang bersifat panas atau dingin antara air dan rombakan tefra lepas-lepas yang mengalir menuruni lereng gunungapi dan atau lembah sungai dengan kecepatan dan densitas yang tinggi. (Yatno)
Bahaya primer telah dikupas dalam tulisan sebelumnya. Tulisan ini lebih mengupas tentang bahaya sekunder Merapi yang merupakan dampak lanjutan kegiatan erupsi khususnya banjir lahar dingin. Lahar dingin merupakan aliran sedimen pekat yang terdiri atas batu, kerikil, pasir serta abu vulkanik yang tercampur air. Proses terbentuknya karena material piroklastik yang berguguran di lereng Merapi terkena air hujan sehingga menyebabkan jatuh ke permukaan bumi dan menggulung material permukaan yang dilewatinya. Material gulungan dan piroklastik itu tertransport dan diendapkan di lembah-lembah / sungai, serta mengalir layaknya banjir.
Peta zonasi ancaman banjir lahar dingin dari BNPB adalah tersebut di bawah ini :
Peta Zonasi Ancaman Banjir Lahar Dingin
Zonasi ini didasarkan pada buffer zone 300 dan 500 meter sepanjang sungai yang hulunya di lereng Gunung Merapi bagian barat hingga tenggara. Sungai-sungai yang dimaksud adalah Kali Pabelan, Kali Upu, Kali Lamat, Kali Brongkeng, Kali Putih, Kali Batang, Kali Krasak, Kali Begog, Kali Bebeng, Kali Boyong, Kali Kuning, Kali Opak, Kali Gendol dan Kali Woro. Berhati-hatilah bagi penduduk yang berada di lembah sungai dan muara sungai tersebut.
Tetap waspada !!!
MERAPI MEMICU GUNUNGAPI YANG LAIN AKTIF ?
Budi Setiyarso
Akhir-akhir ini bencana memang datang beiringan. Mulai dari banjir di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai hingga letusan Merapi yang ikuti 21 gunungapi yang lain berstatus waspada, siaga dan awas. Data PVMBG per 10 Nopember 2010 jam 07:18:30 menyatakan status ke-22 gunungapi tersebut adalah sebagai berikut :
G.Merapi (awas), G. Karangetang (Siaga), G. Ibu (Siaga), G. Sinabung (Waspada), G. Talang (Waspada), G. Kaba (Waspada), G. Kerinci (Waspada), G. Krakatau (Waspada), G. Papandayan (Waspada), G. Slamet (Waspada), G. Semeru (Waspada), G. Soputan (Waspada), G. Rinjani (Waspada), G. Bromo (Waspada), G. Batur (Waspada), G. Sangeangapi (Waspada), G. Rokatenda (Waspada), G. Egon (Waspada),G. Lokon (Waspada), G. Gamalama (Waspada), G. Dukono (Waspada) dan G. Seulewah Agam (Waspada)
Tapi benarkah ke 21 gunung tersebut dipicu oleh aktivitas Gunung Merapi?
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, R Sukhyar menyatakan bahwa aktivitas gunungapi yang lainnya hanya kebetulan bersamaan dengan naiknya aktivitas Merapi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan tidak ada kaitan antara aktivitas Merapi dengan naiknya aktivitas gunungapi yang lain. Senada dengan pernyataan tersebut, Ed Venzke dari Global Vulcanism Program Smithsonian Institution di Washington mengatakan sistem vulkanik umumnya terisolasi satu dengan yang lain.
Bagaimana analisis pendukung pendapat para ahli di atas?
Sebelumnya cermatilah sebaran gunungapi aktif Indonesia di bawah ini :
Dari ke-22 gunungapi, USGS hanya mencatat 3 gunungapi yang aktif. Dasarnya adalah laporan tingkat aktivitas gunungapi yaitu G. Merapi, G. Krakatau dan G. Dukono yaitu sebagai berikut :
Kemudian jika dikaitkan dengan persebaran gempa adalah sebagai berikut :
Kesimpulan :
- Persebaran ke-22 gunungapi tersebut berada di dua sirkum yang berbeda yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. Merapi berada di Sirkum Mediterania, sehingga jika disamakan dengan aktivitas gunungapi yang berada di Sirkum Pasifik adalah kesalahan.
- Di zone subduksi Sirkum Mediterania, pola sebaran gunungapi aktif menyebar merata dengan jarak yang relatif berjauhan. Dan dari pola yang memanjang dapat diketahui kemungkinan aktivitas Merapi yang berupa titik tidak mungkin kuat mempengaruhi sistem memanjang.
- Di zone subduksi Sirkum Pasifik, pola sebaran gunungapi aktif menggerombol di komplek Kepulauan Maluku dan Sulawesi utara. Pola ini lebih disebabkan karena pengaruh tektonisme lempeng regional dan tidak ada hubungannya dengan Merapi
- Secara global pola gunungapi di Sirkum Mediterania lebih bersifat seragam merata akibat tektonisme subduksi lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Hal ini dapat diketahui dari pola gunungapi yang memanjang sepanjang busur dalam.
- Setiap gunungapi mempunyai sistem vulkanisme (struktur internal gunungapi) masing-masing dan tidak saling berantai. Sistem itu terdiri dari dapur magma, pipa kepundan, lubang kepundan hingga kawah yang tiap sistem berdiri sendiri.
- Kegiatan vulkanisme adalah kegiatan endogen lokal, tidak seperti kegiatan tektonisme yang terdiri dari tektonik lokal, regional dan global.
- Menurut Ed Venzke, Gunung Merapi yang meletus akan mempengaruhi gunung lain meletus, hanya jika letak gunung itu sangat berdekatan. Berarti logikanya Gunung Merapi mempengaruhi gunung kembarannya terlebih dahulu (Merbabu) sebelum mempengaruhi Gunungapi yang lain. Nyatanya Gunung Merbabu masih tertidur dengan pulasnya.
Jadi jangan sembarangan mempercayai isu. Cek dulu dengan pendapat para ahli yang berkompeten di bidangnya. Karena mungkin bakalan banyak infotainment yang dilarang tayang seperti “SILET”. Waspadalah !!!
REKAMAN DAMPAK MERAPI YANG DIRILIS NASA
Budi Setiyarso
Laporan NASA tentang perekaman dampak letusan Merapi adalah sebagai berikut :
Bahaya primer selama letusan Gunungapi Merapi terbesar adalah aliran piroklastik. Aliran ini terdiri dari gas vulkanis panas, abu dan batu yang turun dengan cepat dan menerjang dengan kasar. Kecepatan rata-rata jatuhan adalah 150 Km (90 Mill) per jam. Aliran Piroklastik ini biasanya diatur oleh sistem medan yaitu menjadi aliran yang kuat jika terfokus pada lembah sungai (terpengaruh gaya gravitasi) dan melebar pada daerah yang lapang.
Satelit Terra NASA memproduksi citra ASTER warna semu hasil perekaman vulkanisme Merapi yang memperlihatkan aliran piroklastik yang telah meratakan puncak Merapi dan mengalir sepanjang Sungai Gendol di bagian selatan Merapi. Warna kelabu merupakan rekaman material deposit vulkanik (dampak aliran piroklastik dan lahar) dan warna merah merupakan sebaran vegetasi (merah melambangkan kandungan air).
Tepat di utara Lapangan Golf Merapi (ditampilkan dalam warna merah terang) adalah area terluas akibat aliran piroklastik akibat letusan langsung sehingga terkesan melebar menyebabkan oerubahan setting morfologi puncak. Di daerah kelabu gelap, kebanyakan pohon tumbang, terbakar serta tertutup oleh abu dan batuan. Dominasi vegetasi yang digambarkan dalam warna merah terang, sebagian besar tertutup abu secara merata berwarna kelabu muda.
Sumber : NASA
Berdasarkan citra ASTER NASA yang telah ditampilkan sebelumnya. Saya ingin menghitung daerah yang terkena dampak letusan Merapi di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II dan III. Model perhitungannya adalah membuat wilayah dampak letusan yang diekspresikan dalam warna kelabu hingga hitam di citra tersebut. Tampilan citra yang sudah saya susun dengan KRB II dan III di Google Earth adalah sebagai berikut :
Zonasi wilayah dampak tersebut dieksport ke Arc View seperti gambar di bawah ini :
Untuk mengetahui daerah yang terkena dampak di luar KRB II dan III, wilayah dampak disusun di bawah daerah KRB yaitu sebagai berikut :
Kemudian keduanya dioverlaykan untuk mendapatkan data atribut hasil overlay yaitu sebagai berikut ini :
Berdasarkan data diketahui bahwa :
1. Luas daerah di luar KRB II dan III yang terkena dampak letusan Merapi adalah 1248 Ha
2. Desa yang habis dilahap letusan Merapi (100 % terkena dampak) adalah Desa Kalibening, Kapuhan, Keningar, Lencoh, Ngargomulyo, Paten, Samiran, Sengi, Sewukan, Sumber, Seruteleng dan Tlogolele
3. Desa yang tidak terkena dampak (0 %) adalah Desa Sawangan, Sudimoro, Pakembinangun, Ngumut, Ngadipuro, Mriyan, Merdikorejo, Kamongan dan Candibinangun
Referensi :
Studi sensitivitas penduduk terhadap bahaya awan panas Gunungapi Merapi di Kawasan Rawan Bencana II dan III (Thesis UGM, Pak Yasin Yusuf)
KALAU KRB DIREVISI
Budi Setiyarso
Seperti diulas pada tulisan sebelumnya bahwa beberapa daerah di KRB II dan III tidak tersentuh dampak letusan Merapi, namun beberapa daerah yang tidak termasuk dalam KRB II dan III tersentuh dampak letusan. Yang menjadi pertanyaan adalah “Perlukah Peta KRB direvisi?”. Mengingat setting morfologi puncak Merapi telah terjadi dinamika.
Kawasan rawan bencana sebaiknya ditentukan oleh pertemuan dua sistem yaitu probabilitas dan events (peristiwa). Probabilitas merupakan mapping hazard berdasarkan kajian ilmiah dengan mempertimbangkan karakterisik medan melalui studi geologi, morfologi, vulkanologi dsb. Events merupakan mapping hazard berdasarkan rekaman peristiwa ilmiah maupun pengetahuan lokal masyarakat yang telah “niteni” kejadian letusan selama bertahun-tahun bahkan turun temurun melalui cerita lisan maupun tertulis.
Contoh perjalanan dinamika morfologi puncak dapat dilihat pada dua citra berikut ini :
Dinamika morfologi akibat letusan
Adapun saran revisi KRB II dan III dari penulis yang hanya mempertimbangkan satu peristiwa letusan yaitu letusan tahun 2010 adalah sebagai berikut :
1. Bagian selatan
Revisi Lereng Selatan
Setelah geger boyo ambrol, DAS Gendol memiliki tingkat kerawanan yang meningkat, sehingga perlu adanya perpanjangan KRB II di lembah Kali Gendol sejauh 15 Km dari puncak Merapi. Hal ini mengingat jarak luncur aliran piroklastik dan lahar pada letusan 2010 mencapai 15,22 Km
Di DAS Kuning dan Boyong tidak perlu direvisi, karena letusan tahun 2010 tidak sampai membabat habis KRB DAS ini. Atau dengan kata lain wilayah KRB lebih luas daripada zonasi letusan. Seandainya diperlukan dalam rangka penghematan biaya dan pemfokusan penanganan manajemen bencana, KRB di zone ini dapat dipersempit ke arah utara, karena bagian atas terdapat morfologi pelindung yang membelokkan arah aliran.
2. Lereng barat
Pada lereng barat perlu adanya perluasan KRB mengingat peristiwa letusan selama ratusan tahun mengarah ke bagian barat. Selain itu meskipun kejadian extreme letusan 2010 ke arah selatan dan berupa ledakan (eksplosif) namun bagian lereng barat tetap mengalami aliran piroklastik yang signifikan.
3. Lereng utara
Zonasi KRB yang hanya mengandalkan pada jalur patahan Bammelen yang menjadi morfologi pelindung sekaligus pembatas zonasi perlu diperluas mengingat ledakan (eksplosif) yang baru saja terjadi. Hal ini untuk mengantisipasi tipe-tipe letusan yang tak terduga. Selain itu dampak letusan Merapi 2010 melewati KRB II di bagian utara.
4. Lereng utara
Pada lereng timur juga perlu luasan mengingat jarak KRB dari puncak paling dekat berada di lereng ini, paling tidak perluasan KRB sampai dengan lereng bawah patahan Bammelen.
Koleksi Foto Merapi BNPB
Budi Setiyarso
Foto-foto letusan Merapi dari BNPB update tanggal 16 Nopember 2010 adalah sebagai berikut :
Citra SPOT
SPOT (Systeme Probatoire de I’Observation de la Terre) adalah proyek kerjasama Perancis, Swedia dan Belgia dibawah koordinasi CNES (Center National d’Etudes Spatiales) badan ruang angkas Perancis. SPOT pertama diluncurkan pada tanggal 23 Februari 1986 dari stasiun peluncuran Kourou, Guyana Prancis dengan membawa dua sensor identik disebut HRV (Haute Resolution Visibel/resolusi tinggi pada cahaya tampak).
Foto udara miring (oblique)
Pemotretan udara dengan cara condong dilakukan dengan posisi antara pesawat udara yang membawa kamera dengan muka bumi membentuk sudut kemiringan tertentu. Tujuannya untuk melengkapi informasi poto udara vertikal, sehingga akan didapatkan informasi khusunya relief.
tentang foto udara oblique selengkapnya
- Foto udara oblique
Geo Eye
Geoeye merupakan proyek yang menyediakan citra multispektral (MS) dan pankromatik (PAN) secara komersiil. Salah satu produknya adalah citra ikonos yang memiliki resolusi hingga 1 – 4 meter. Aplikasinya mampu meliput daerah perkotaan dan pedesaan diantaranya pengamatan perubahan (spasio temporal).
Di Cangkringan (Sleman)
Di Pakem (Sleman)
- Geoeye di Pakem
Geoeye di Kemalang (Sleman)
Geoeye Dukun (Magelang)
Geoeye Dukun
MELIHAT DAMPAK LETUSAN MERAPI DENGAN CITRA RADAR
Budi Setiyarso
Letusan Merapi
Setelah melihat dampak letusan Merapi dari citra ASTER, SPOT dan geoeye, kita masih dapat melihat tampilan dampak Merapi dengan citra radar dari LAPAN produksi Badan luar angkasa Jepang menggunakan satelit ALOS dengan sensor PALSAR. Sensor Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) mempunyai keistimewaan dapat menembus awan, sehingga informasi permukaan bumi dapat diperoleh setiap saat, baik malam maupun siang hari. Resolusi untuk high resolusion mode dan ScanSAR masing-masing 10 meter dan 100 meter. Data PALSAR dapat digunakan untuk pembuatan DEM, Interferometry untuk mendapatkan informasi pergeseran tanah, kandungan biomass, monitoring kehutanan, pertanian, tumpahan minyak (oil spill), soil moisture, mineral, pencarian pesawat dan kapal yang hilang dll.
Tampilan citra radar ALOS PALSAR adalah sebagai berikut :
- Dampak letusan Merapi
Berdasarkan citra diketahui bahwa :
1. Terbentuk kawah baru yang menghadap ke selatan
Kawah Merapi
2. Aliran utama erupsi mengarah ke selatan dengan ditandai dengan warna merah yang menunjukkan wilayah yang terkena dampak.
Aliran lava
3. Wilayah dampak semakin ke bawah semakin melebar sehingga pemetaan KRB, zoning bahaya harus juga mempertimbangkan hal ini.
4. Meskipun arah aliran erupsi utama ke selatan namun lereng barat masih juga terkena dampak letusan, terbukti warna bintik-bintik merah menghiasi lereng barat.
5. Dapat diamati perubahan morfologi seperti hilangnya rekahan , terbentuk rekahan baru, longsoran, gerusan dan sedimentasi akibat erupsi.
TRACKING ABU VULKANIK MERAPI DENGAN SATELIT
Budi Setiyarso
Abu vulkanik
Setelah kejadian terakhir letusan yang dahsyat, Gunung Merapi telah memuntahkan awan abu vulkanik ke udara.
Data satelit sangat penting untuk menilai bahaya sekunder letusan untuk aktivitas lalu lintas udara dan keselamatan masyarakat umum sekitar Merapi. Sejumlah penerbangan internasional baik di dalam negeri dan keluar dari wilayah Indonesia banyak yang dibatalkan karena awan abu vulkanik tersebut.
Semburan abu vulkanik
Terbang melewati awan abu tersebut mengancam keselamatan karena partikel abu dapat menyebabkan kerusakan mesin. Misalnya pada tanggal 28 Oktober 2010, pesawat udara Thomas Cook Skandinavia terbang melewati awan Merapi dari Indonesia ke Arab Saudi, dan terpaksa diberhentikan di Batam untuk dilakukan chek up. Hasilnya ditemukan bahwa mesin mengalami kerusakan dan harus diganti.
Vulkanik Ash Advisory Centre (VAACs) bertanggung jawab untuk mengumpulkan informasi awan abu dan menilai risiko penerbangan. Australia Darwin VAAC menggunakan data satelit untuk mengeluarkan prakiraan tersebut. Untuk mengetahui apakah pesawat bisa melewati awan dengan aman yaitu di bawah atau di atas akumulasi awan abu dan untuk meramalkan pergerakan awan, VAACs memerlukan informasi yang lebih akurat pada ukuran ketinggian dan vertikal dari abu.
Perekeman pada spektrum Infrared
Animasi di atas menunjukkan pergerakan asap sulfur dioksida (SO2) Gunung Merapi pada tanggal 4 – 14 November 2010 hasil pengolahan dengan instrumen Inframerah MetOp’s Atmosfir Interferometer (pengukuran pada bagian spektrum inframerah).
Dilihat secara vertikal dan horisontal
Model pergerakan sulfur dioksida (SO2) awan pada tanggal 4 – 14 November 2010 menggunakan FLEXPART yaitu model dispersi partikel yang dibuat oleh Institut Norwegia untuk penelitian udara.
Gambar atas menunjukkan ketinggian awan, sedangkan gambar bawah menunjukkan distribusi spasialnya. Dalam model ini, SO2 digunakan sebagai obyek yang menggambarkan sebaran ruang abu vulkanik.
Perekaman pada spektum ultraviolet
Animasi ini menunjukkan pergerakan awan sulfur dioksida pada tanggal 4 – 14 November 2010 hasil perekaman instrument Gome 2, SCIAMACHY dan OMI (masing-masing pengukuran di lakukan pada frekuensi spektrum ultarviolet).
Referensi : ESA
PETA RUPA BUMI INDONESIA WILAYAH MERAPI
Oleh : Budi Setiyarso
BNPB merilis Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) hasil kerjasama dengan Bakosurtanal dengan menambahkan informasi seputar kebencanaan Merapi 2010 seperti informasi :
- Zona ancaman Merapi tanggal 19 Nopember 2010 yaitu :
Area zona ancaman Sleman hingga arah Kali Boyong ke barat 10 Kilometer. Daerah tersebut meliputi dua desa di Kecamatan Turi (Girikerto dan Wonokerto). Arah Kali Boyong ke timur menjadi 15 kilometer. Zona ini berada di lima desa di Kecamatan Cangkringan Arogomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo, Umbulharjo, Wukirsari). Area zona bahaya di Magelang menjadi 10 kilometer, Boyolali menjadi 5 kilometer dan Klaten menjadi 10 kilometer.
- Daerah potensi banjir (daerah yang diidentifikasi kemungkinan mengalami penggenangan saat banjir atau banjir lahar dingin), dengan penetapan radius tertentu atau mempertimbangkan topografi mikro tepi sungai dan morfologi tepi sungai seperti dataran banjir, teras sungai atau berbatasan tanggul alam. BNPB membahasakannya sebagai daerah aliran sungai (DAS), padahal secara teori daerah aliran sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau/laut (Manan, 1979). Jadi menurut saya kurang tepat jika daerah kemungkinan penggenangan yang mendasarkan pada jarak, relief dan morfologi alami tersebut disebut DAS. Karena hakikatnya seluruh wilayah akan masuk dalam DAS tertentu, tidak seperti di dalam peta.
- Informasi lokasi dusun lengkap sehingga dengan peta ini kita dapat mengidentifikasi kemungkinan serangan lahar dingin pada suatu dusun.
Merapi Sebelum dan Sesudah Letusan
www.inigis.com
===
Erupsi eksplosif Gunung Merapi terus terjadi hingga saat postingan ini dituliskan. Terakhir terjadi kemarin Rabu (3/11/2010) pukul 16.05, yang menghasilkan luncuran awan panas berskala lebih besar daripada letusan pertama, 26 Oktober lalu. Letusan diikuti perluasan radius bahaya dari yang semula 10 kilometer menjadi 15 km dari puncak Merapi.
![]() |
| gambar diambil dari kompas.com [AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA] |
Gunung Merapi adalah gunung yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.
//
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. [wikipedia]
Berikut adalah rekaman citra satelit IKONOS sebelum letusan Gunung Merapi 7 Juli 2008 dan setelah letusan pada 28 Oktober 2010 :
![]() |
| Before the erruption (7 Jul 2008) |
![]() |
| After the erruption (28 Oct 2010) |
Previous Entry: Tsunami Mentawai : Rekaman Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Bencana























































