Syirik Kecil, yaitu syirik yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan perantara (wasilah) kepada syirik besar kecil ada dua macam.
1. Syirik Nyata (Zhahir):
Yaitu syirik yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah. Rasulullah bersabda,
من حلف بغير اللّه فقد كفر أو شرك
"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia teiah berbuat kufur atau syirik." (at-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).
Termasuk di dalamnya adalah ucapan, (atas kehendak Allah dan kehendakmu). Ibnu Abbas ra menuturkan,
لمّا قال له رجل : ا شاء اللّه و شئت فقال : أجعلتني للّه ندّا قل ماشاء اللّه وحده
"Ketika ada seseorang berkata kepada Nabi, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu', maka ketika itu beliau bersabda, 'Apakah engkau menjadikan diriku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah, 'Hanya atas kehendak Allah saja' ." (HR. an-Nasa'i).
Termasuk pula ucapan, "Kalau bukan karena Allah dan karena si fulan." Yang benar adalah hendaknya diucapkan,
م شاء اللّه ثمّ فلان
"Atas kehendak Allah kemudian kehendak si fulan."
ولولا اللّه ثمّ فلان
"Kalau bukan karena Allah kemudian karena si fulan."
Sebab kata (kemudian) menunjukkan tertib berurut, yang berarti mejadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah,
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 29).
Sedangkan وً(dan) maka untuk menunjukkan kebersamaan dan persekutuan, tidak menunjukkan tertib berurut. Termasuk dalam larangan ini adalah ucapan 'Tidak ada penolong bagiku kecuali Allah dan engkau', 'Ini adalah atas berkah Allah dan berkahmu.'
Adapun yang berbentuk perbuatan adalah seperti memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, atau menggantungkan tamimah karena takut kena 'ain (penyakit mata ed.) atau perbuatan lainnya, jika ia berkeyakinan bahwa perbuatannya tersebut merupakan sebab-sebab pengusir atau penangkal mara bahaya, maka ia termasuk syirik kecil.
Sebab Allah tidak menjadikan sebab-sebab (hilangnya mara bahaya) dengan hal-hal tersebut. Sedang ia berkeyakinan bahwa hal-hal tersebut bisa menolak atau mengusir mara bahaya, maka ia adalah syirik besar, sebab ia berarti menggantungkan diri kepada selain Allah.
2. Syirik tersembunyi (Khafi)
Yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti ingin dipuji orang (riya') dan ingin didengar orang (sum'ah). Seperti melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia ingin mendapatkan pujian manusia, misalnya dengan membaikkan shalatnya atau bersedekah agar dipuji dan disanjung karenanya, atau ia melafazhkan dzikir dan memperindah suaranya dalam bacaan (al-Qur'an) agar didengar orang lain, sehingga mereka menyanjung atau memujinya. Jika riya' itu mencampuri (niat) suatu amal, maka amal itu menjadi tertolak.
Karena itu, ikhlas dalam beramal adalah sesuatu yang niscaya. Allah berfirman,
"Maka Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia berbuat syirik sedikit pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110).
Nabi bersabda,
أَخْوَفُ مَا أَخأفُ عَلَيْكُمْ الشَّرْكُ الأَصْغَرُ , قَالُوْا يَا رسول اللّه : و ما الشّركُ الأصغر ؟ قال : الرّياء.
'Yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Beliau menjawab, "Yaitu riya'." (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah).
تعس عد الّينار تعس عبد الدّرهم , تعس عبد الْخمِيصَةِ تعس عَبْدُ الخميلة إ أعطي رضي و إن لم يعط سخط
"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah ham- ha khamisah dan celakalah hamba khamilah jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah." (HR. al-Bukhari).
