
“As we try to do more and more things in less and less time, It’s often the case that errors will creep in. We call that a speed-accuracy trade-off,” Dr Pierre Jolicoeur,Universitas Montreal, Kanada.
Di suatu hari di penghujung bulan Februari, setelah memarkir mobil di halaman kantor, saya berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja. Hari itu adalah hari yang sibuk sehingga saya ingin cepat-cepat sampai ke meja kerja dan menyelesaikan agenda kerja..
Dalam perjalanan dari tempat parkir ke ruangan, kira-kira 200 meteran, telepon selular berdering. Beberapa detik setelah itu, di dalam kotak pesan telepon seluler telah mengantri beberapa pesan yang harus segara saya balas.
Saya pun berjalan tergopoh-gopoh sambil menjentikkan jari-jari menulis di telepon seluler untuk membalas pesan singkat. Tiba-tiba…..brak……pipi saya terantuk gagang pendorong gerobak sampah yang berhenti.
Ketika saya menulis pesan singkat, pandangan mata menunduk,tertuju pada telepon seluler. Saya tidak menyadari bahwa ada gerobak sampah seukuran becak yang teronggok berhenti di depan mata saya. Gerobak sampah itu pun saya tabrak. Pipi sebelah kanan lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
Itulah resiko melakukan dua atau lebih pekerjaan secara bersamaan atau dikenal dengan istilah multitasking.
Istilah ini sebenarnya berasal dari terminologi dalam dunia komputer. Artinya suatu situasi pada saat Central Processing Unit (CPU) berpindah-pindah dari satu program ke program aplikasi yang lain(Wikipedia).
Bagi pribadi-pribadi yang supersibuk multitasking adalah makanan sehari-hari. Kondisilah yang mengharuskan seseorang melakukannya. Tidak terkecuali saya sendiri.
Dalam keseharian pekerjaan di kantor : tangan kanan menulis surat elektronik, sementara tangan kiri menggantung dengan telepon seluler menempel di kuping. Sedangkan di samping kursi sudah menunggu rekan kerja yang ingin berbicara. Setelah pembicaraan di telepon seluler selesai, rekan kerja pun menyodorkan gagang telepon kantor yang baru saja berdering.
Dalam kehidupan keluarga pun saya tak akan luput dari aktifitas multitasking. Anak yang menangis minta dibuatkan susu dan minta digendong. Akhirnya tangan kiri pun menggendong anak sedangkan tangan kanan membuka kaleng susu serta memasukkan bubuk susu ke botolnya. Ketika saya akan menuangkan air panas dari dispenser, istri saya yang sedang membersihkan lantai atas pun memanggil minta diambilkan sesuatu.
Dalam artikelnya The myth of multi-tasking Allan Britnell,seperti ditulis dalam Reader Digest, menjelaskan sebenarnya tidak terjadi multitasking dalam diri kita.
“Karena faktanya kita mengerjakan satu aktifitas kemudian setelah itu kita melakukan aktifitas lain,” begitu kata Dr Pierre Jolicoeur dari Universitas Montreal, Kanada, dalam artikel tersebut.
Dr Jolicoeur meneliti bagaimana otak manusia menangani beberapa pekerjaan. Menurutnya mungkin lebih tepat apabila istilahnya “Task-switching”,beralih dari satu tugas ke tugas yang lainnya. Walaupun peralihannya (switching) berlangsung sepersekian detik.
Dalam kenyataan sehari-hari pendapat di atas valid. Misalnya ketika kita berbicara sambil menulis pesan singkat. Pandangan mata kita tidak tertuju kepada lawan bicara, sehingga kita kehilangan fokus terhadap isi pembicaraan. Setelah selesai mengirimkan pesan singkat, kita akan minta lawan bicara untuk memperjelas dengan mengulangi kalimatnya. ” Sori, tadi minta data apa ya ?”
Jadi sebenarnya kita tidak melakukan dua pekerjaan pada waktu yang bersamaan (multitasking). Pada contoh di atas, proses berbicara dilakukan setelah mengirimkan pesan singkat..
Apabila berkonsentrasi mengirimkan pesan singkat , namun pada saat yang sama kita mampu menangkap maksud pembicaraan lawan bicara, di situlah ada multitasking menurut Dr Pierre Jolicoeur
Namun faktanya lain, kita tidak mampu menangkap maksud pesan yang disampaikan lawan bicara, sehingga kita meminta lawan bicara untuk mengulangi kalimatnya.
Dengan kata lain,multitasking itu hanyalah sebuah mitos.
Menyimak fakta di atas, yang sebenarnya terjadi menurut Jolicoeur adalah “Task-switching” , setelah fokus mengirimkan pesan singkat kemudian kita beralih fokus mendengarkan pernyataan lawan bicara.
Selanjutnya Allan Britnell menyebutkan bahwa ketika kita melakukan lebih banyak pekerjaan dalam waktu yang lebih sedikit, maka seringkali akan terjadi kesalahan. Ini disebut speed-accuracy trade-off.
Ada dua dampak kalau kita mengorbankan accuracy dengan speed saat melakukan berbagai aktifitas dalam waktu yang hampir bersamaan :
1.Konsekuensi yang mendatangkan malapetaka (Disastrous Consequences)
Konsentrasi terpecah akan berakibat pada pada konsekuensi yang membahayakan, bahkan resiko kematian.
Hal ini jelas saat seseorang menyetir mobil. Pada saat kita berada di belakang kemudi, untuk keperluan navigasi, otak memproses beberapa sinyal visual dan audio.
Kita memantau kecepatan, pandangan fokus ke arah depan. Sementara itu mata melirik kaca spion sambil memonitor laju kendaraan agar berada pada jalur yang benar.
Jamak terjadi pada masyarakat kota, berbicara di telepon selular, mengambil makanan dan minuman dari drive through tanpa menumpahkan isinya, sambil memantau informasi lalu lintas dari radio.
Otak yang memproses tambahan informasi seperti contoh di atas pada saat menyetir sangat beresiko, bahkan tak jarang resiko mematikan.
Pengemudi yang tidak merespon sinyal audio berupa bunyi klakson dan dan teriakan, bisa menyebabkan kecelakaan terjadi.
Kasus tertabraknya minibus oleh kereta api Pasundan jurusan Bandung-Surabaya di Tasikmalaya,Jawa Barat, Minggu 18/3 adalah contohnya. Seperti diberitakan Kompas Senin 19/3, kecelakaan itu memakan 11 orang korban tewas serta 3 orang luka berat
Kecelakaan bermula ketika minibus tiba-tiba berhenti di tengah rel KA. Padahal dari arah kiri-hanya berjarak 100 meter-melaju KA Pasundan dengan kecepatan sekitar 60 Km. Saat itu masinis membunyikan klakson beberapa kali, namun minibus itu tidak bergerak dari rel dan langsung terhantam kereta api.
Seorang saksi mata mengatakan bahwa dirinya meneriaki pengemudi minibus itu namun nampaknya teriakan itu tidak terdengar dan mobil masih tetap melintas di rel kereta api.
Polisi mengatakan dugaan sementara penyebab kecelakaan adalah kelalaian pengemudi.
Seorang pengemudi, apa pun yang dikemudikannya, harus mempunyai kemampuan navigasi. Kemampuan navigasi ini adalah pengetahuan (tentang posisi,jarak, dsb) untuk menjalankan kapal laut, pesawat,mobil dari satu tempat ke tempat yang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat 2011).
Kemampuan navigasi mengharuskan pengemudi tanggap dan bereaksi cepat terhadap sinyal-sinyal visual dan audio.
Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil sehingga klakson KA tidak terdengar, Pun tidak ada yang tahu mengapa teriakan warga di sekitar rel KA tak menghalangi minibus melaju menuju lintasan rel.
Faktanya sinyal audio berupa bunyi klakson dan dan teriakan warga tidak terdengar oleh pengemudi sehingga kecelakaan itu terjadi
Di Ohio, Amerika Serikat pernah seorang perempuan didakwa dengan tuduhan melakukan tindakan yang membahayakan anak kecil. Pasalnya perempuan ini menyusui anak dan berbicara di telepon seluler sambil mengemudikan mobilnya.
Perempuan lain di Illinois, Amerika Serikat, karena tidak memperhatikan lampu merah, dia menabrak seorang pengendara sepeda motor . Pengendara motor itu akhirnya tewas. Belakangan diketahui ketika menunggu lampu merah, perempuan itu sedang berkuteks, Sehingga tidak benar benar fokus dengan nyala lampu lalu lintas.
2. Mempengaruhi hubungan antarmanusia (Affect Our Relationships)
Suatu kali saya berbicara dengan rekan kerja yang duduk di sebelah kanan meja kerja. Ketika saya mengajaknya berbicara, dia tidak bereaksi dan terus menjentikkan jarinya di keyboard komputer, sambil bahu dan kepala menjepit telepon seluler.
Ketika itu saya tidak melihat dia berbicara. Sehingga saya berasumsi bahwa dia sedang melakukan panggilan telepon, namun si penerima panggilan belum merespon panggilannya. Ada sedikit jeda waktu untuk menyampaikan informasi, pikir saya.
Saya mengulangi pembicaraan untuk menyampaikan sebuah informasi.
Namun dia bergeming dan tetap mengetik dengan pandangan ke layar komputer. Karena tidak mendapatkan respon saya bertanya sambil memanggil namanya,” Apakah kamu menyimak saya ?”
Ia pun menjawab,” Iya..iya pak..ini saya sedang menelpon, maaf pak ini ada yang urgent,”
Dave Crenshaw dalam www.davecrenshaw.com menulis bahwa multitasking bisa merusak hubungan antar manusia.
1. Ketika kita melakukan multitasking tehadap manusia secara tidak langsung mengatakan bahwa orang tersebut tidak penting.
2. Ketika kita fokus 100% terhadap manusia maka kita menganggap orang itu penting
Jamak juga kita mendapati ketika kita sedang berbicara dengan seseorang yang sedang menonton televisi atau membaca buku. Mereka sebenarnya tidak benar-benar menyimak apa yang kita bicarakan. Jangan berharap apa yang kita sampaikan akan dimengerti secara utuh. Karena pada saat kita berbicara, otak mereka memproses data untuk aktifitas yang lain.
Akhirnya, kuncinya adalah bagaimana kita mengakui kelemahan kita sebagai manusia,begitu menurut Allan Britnell.
Menurut saya multitasking tidak mungkin dihindari sepenuhnya. Namun kita bisa mengukur kadar resiko terhadap pilihan multitasking yang akan kita lakukan.
Ditulis Rikho Kusworo 22 Maret & 23 Mar 2012.
Sumber :
Majalah Reader Digest March 2012 Article The myth of multi-tasking. Allan Britnell.
Kompas Senin 19/3
(Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat 2011).
